Pagi itu, mentari di Pontianak baru saja merekah ketika saya bergegas menuju kampus untuk menunaikan amanah di hari pertama sebagai staf beliau selama memegang tampuk kepemimpinan sebagai Rektor. Jam di tangan masih menunjukkan sekitar pukul 07.10, jauh lebih awal dari waktu yang direncanakan sebelum pukul 07.30. Namun, setibanya di halaman gedung rektorat, rasa percaya diri karena datang lebih pagi lebur seketika. Saya mendapati beliau sudah berdiri di sana didampingi Kepala Biro dan Kabag ULA, siap memulai hari dengan penuh kesiagaan.
Sebuah tamparan halus tentang arti kedisiplinan sejati. Dalam sirah Nabawiyah, kita mengenal keteladanan Rasulullah SAW yang senantiasa menjadi orang pertama yang hadir menyambut amanah dan mengutamakan ketepatan janji. Kehadiran beliau yang jauh melampaui ekspektasi waktu bukan sekadar manajemen jadwal, melainkan cerminan komitmen seorang pemimpin yang menempatkan tanggung jawab di atas kenyamanan pribadi.
Kisah berlanjut di ruang lobi
rektor saat kami menikmati sarapan pagi. Di atas meja tersaji menu yang sangat
bersahaja: pisang rebus, jagung rebus, telur puyuh rebus, tempe dan tahu rebus,
serta buah jeruk dan salak. Sempat terselip rasa ragu dan canggung menyajikan
panganan sederhana tersebut kepada seorang pejabat penting. Namun, keraguan itu
lebur seketika saat beliau menyambutnya dengan senyum tulus dan antusiasme
hangat. "Ini makanan sehat," tutur beliau.
Suasana semakin hangat ketika
saya mengajak Kepala Biro serta rekan rekan yang berada di ruangan itu untuk
turut duduk dan sarapan bersama. Saya pun sempat mengabadikan momen kebersamaan
yang penuh rasa kekeluargaan tersebut.
Kesederhanaan beliau mengingatkan
kita pada pola hidup Rasulullah SAW yang mencintai kesahajaan, menjauhi
kemewahan berlebih, dan senantiasa mensyukuri rezeki yang halal lagi thayyib. Di
meja sederhana itulah kami duduk setara, sarapan bersama penuh keakraban,
diselingi diskusi hangat bersama para akademisi dan peneliti LP2M yang
mengkonsultasikan proposal riset para peneliti.
Pelajaran berharga berikutnya
hadir saat pertemuan lintas iman bersama para tokoh agama dari FKUB Kalimantan
Barat yang dipimpin Prof. Dr. Ibrahim, M.A., serta dihadiri Kepala Kantor
Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Dr. H. Muhajirin Yanis,
M.Pd.I. Ketika memasuki ruang pertemuan, sebuah pemandangan sarat makna tersaji
di depan mata. Beliau dengan tulus mengosongkan kursi utama dan mempersilakan
Bapak Kakanwil untuk menempatinya. Terjadilah adegan saling mendahulukan dan
saling menghormati di antara kedua tokoh tersebut, hingga akhirnya rasa takzim
beliau memenangkan adab penghormatan itu. Melihat pemandangan serta kebersamaan
dan dukungan tulus tersebut, ingatan saya melayang pada kisah kolosal raja-raja
Korea tempo dulu yang pernah saya tonton, ketika seorang raja dengan penuh
hormat mempersilakan tempat duduknya kepada tamu kehormatan, baik kepada Ibu
Suri, ibunda tercinta.
Dalam suasana pertemuan yang
penuh kehangatan dan persaudaraan itulah, terungkap dukungan luar biasa dari
segenap elemen lintas agama. Para tokoh yang mewakili Kristen Protestan,
Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu secara bulat menyatakan kepercayaan
dan dukungan penuh kepada beliau untuk memimpin lembaga ini. Mereka berkomitmen
akan senantiasa mendukung setiap langkah serta cara kerja beliau, dan sangat
mendukung penuh proses strategis IAIN Pontianak menuju perguruan tinggi
berbentuk Universitas. Bahkan, gagasan agar di kampus kelak dapat berdiri
program-program studi yang menaungi kajian keagamaan secara luas dan mendalam
disambut dengan antusiasme tinggi oleh seluruh tokoh yang hadir. Menanggapi hal
tersebut, beliau menyambut baik usulan mulia itu dan berucap dengan penuh
harapan agar cita-cita luhur ini segera dapat terwujud, seiring dengan tahapan
transformasi yang sedang dan akan terus beliau jalankan dengan sungguh-sungguh.
Semangat pengembangan kampus ini pun mendapat dukungan nyata, di mana beliau
telah menerima hibah tanah seluas dua puluh hektar yang akan dipergunakan untuk
pembangunan Kampus Dua IAIN Pontianak.
Rangkaian agenda padat bergulir
tanpa henti, mulai dari serah terima jabatan PLT Rektor di Aula IAIN Pontianak
hingga audiensi beruntun bersama berbagai pihak. Menjelang malam, di sela
perbincangan hangat bersama tamu dari Itjen sebelum ibadah dan makan bersama,
tersingkaplah mutiara di balik keteguhan karakter beliau.
Lahir dari keluarga yang sangat
bersahaja dan menjadi yatim sejak belia, beliau tumbuh di bawah asuhan penuh
berkah seorang ibu dan tempaan tradisi pesantren. Beliau bertutur dengan
kerendahan hati bahwa sepanjang hidupnya, pantang baginya membantah atau
menentang ucapan sang ibu. Di sanalah letak rahasia keberkahan hidup beliau.
Kunci kesuksesan yang beliau raih hari ini berakar kuat pada nilai birrul
walidain bakti tulus kepada orang tua yang mengundang rida Allah SWT,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Rida Allah terletak pada rida kedua orang tua.
Tepat pukul sepuluh malam, langkah kami terayun menuju jalan pulang. Meski raga beraktivitas belasan jam, tidak ada rasa lelah yang tertinggal; hanya ada dada yang lapang dan hati yang dipenuhi rasa syukur. Pengalaman pertama mendampingi beliau ini melahirkan untaian doa tulus dari lubuk hati terdalam, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan kesehatan, kesuksesan, serta perlindungan yang sempurna bagi beliau dalam mengemban amanah memimpin IAIN Pontianak. Semoga langkah beliau senantiasa dinaungi kemudahan dan meraih dukungan penuh dari segenap elemen masyarakat Kalimantan Barat, demi mewujudkan ikhtiar mulia mengantarkan kampus tercinta ini bertransformasi penuh menuju universitas.
#AdabDanIntegritas
#BirrulWalidain
#SirahNabawiyah
#IAINPontianak
#TransformasiUIN
#FKUBKalbar
#KemenagKalbar
#InspirasiKepemimpinan
#PolaHidupSehat
#Tawaduk
#HikmahKehidupan
#DukunganLintasAgama
#KampusDuaIAINPontianak
