Wikipedia

Hasil penelusuran

Menggugat Paradigma Sakit: Ketika Ketenteraman Jiwa Menjadi Episentrum Kesembuhan Fisik

 

Oleh: S. Wahyu Nirmala



PADA HARI INI, suasana Ruang 310 Tower C Lantai 2 Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSHA) IAIN Pontianak tampak sangat berbeda dari biasanya saat puluhan pasang mata yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, serta para penggiat literasi berkumpul dengan antusiasme tinggi. Mereka hadir bukan sekadar untuk mengikuti rutinitas akademik, melainkan untuk menyaksikan sebuah diskursus revolusioner yang memadukan batas-batas kedokteran konvensional, filsafat, psikoneuroimunologi, dan dimensi spiritual dalam menyikapi kesehatan manusia. Agenda spesial Diskusi Dosen ini mengupas secara mendalam materi yang merupakan hasil riset mendalam Dr. Ahmad Jais, S.Ag., M.Ag. yang terangkum dalam disertasinya, yang kemudian resmi dibukukan menjadi sebuah karya literatur mencerahkan berjudul “Bukan Tubuhmu yang Sakit, Tapi Pikiranmu: Mind Healing sebagai Jalan Baru Memahami dan Mengatasi Autoimun”. Dibedah di bawah panduan moderator Dr. Zulkifli, MA, forum ilmiah yang terselenggara atas kolaborasi bersama Duta Baca Perpustakaan IAIN Pontianak, eLsim, serta Perempuan ICMI KKR ini juga memikat perhatian eksternal dengan hadirnya perwakilan tenaga kependidikan dari Universitas Tanjungpura Pontianak yang ikut serta menyimak jalannya diskusi.



Dr. Ahmad Jais membuka pemaparannya dengan menjabarkan realitas pelik mengenai penyakit autoimun, khususnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau Lupus, yang hingga tahun 2026 ini di ranah konvensional dinilai belum bisa disembuhkan secara total dengan obat-obatan biasa. Autoimun dipandang sebagai anomali biologis di mana sistem kekebalan justru berbalik menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri, dengan gejala yang sangat bervariasi dari kelelahan kronis hingga ruam kupu-kupu sehingga dijuluki penyakit seribu wajah. Pengobatan konvensional sering kali hanya mampu mengantarkan pasien sampai ke garis finish penanganan fisik, namun menyisakan ruang batin yang kosong dan rapuh bagi para penyintasnya.

Dinamika emosional ternyata berkorelasi langsung dengan kesehatan fisik, sebagaimana ditunjukkan melalui data Emotional Timeline dari kisah nyata seorang klien penderita Lupus di Metro, Lampung. Data empiris tersebut membuktikan adanya hubungan sebab-akibat yang kuat, di mana konflik perkawinan yang berlarut pada tahun 2015 memicu radang sendi pertama, beban pengurus yayasan pada tahun 2017 memperburuk kondisi kulit, kesedihan mendalam atas kepergian ibunda pada tahun 2019 memperluas gejala, hingga kecemasan akibat pandemi pada tahun 2021 memicu fase kekambuhan terberat. Melalui kacamata psikoneuroimunologi, pikiran negatif terbukti bertindak sebagai stimulan destruktif yang merusak arsitektur saraf dan memicu peradangan sistemik, sehingga kesembuhan sejati harus dimulai dengan memprogram ulang cara manusia berpikir.


Formula Mind Healing Technique (MHT) kemudian diperkenalkan sebagai jalan baru yang berfokus pada pembangkitan energi pikiran melalui pembersihan trauma batin dan optimisme yang terukur. Pendekatan ini ditopang oleh tiga pilar utama yakni Mind Energy, Reprogramming melalui kata-kata positif Relaks-Tenang-Damai (RTD) serta visualisasi, dan Focused Intention untuk memulihkan koherensi tubuh. Ikhtiar non-material ini memiliki landasan teologis yang sangat kokoh dalam Islam, merujuk pada hadis riwayat Imam Muslim bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya dan akan sembuh atas izin Allah, menegaskan bahwa pembenahan pikiran dan hati merupakan bagian dari syariat penyembuhan.

Suasana ruang diskusi menjadi semakin hidup dan interaktif ketika sesi tanya jawab dibuka bagi para peserta yang memadati ruangan. Pak Lukman Abdul Jabbar mengajukan sebuah catatan kritis yang mendalam mengenai batasan metode ini, dengan menegaskan sudut pandang bahwa sejatinya tidak semua penyakit dapat disembuhkan secara mutlak hanya oleh pikiran semata karena adanya faktor biologis murni. Beliau menggarisbawahi bahwa poin esensial dari pendekatan ini adalah bagaimana pikiran manusia dapat secara sadar diarahkan, dilatih, dan dikelola untuk membangun resiliensi tubuh, sehingga mampu bertindak sebagai motor penggerak utama dalam membantu proses penyembuhan penyakit.

Ketegangan mental dalam menghadapi fase krusial akademik juga dikupas ketika seorang tenaga kependidikan bernama Sri Wahyuni menyampaikan keluhannya mengenai kecemasan emosional dan rasa ketakutan yang masih sering dialaminya karena belum kunjung mendapatkan kepastian jadwal ujian disertasi. Menanggapi problem psikologis tersebut, Dr. Ahmad Jais memberikan sebuah solusi aplikatif berbasis proyeksi energi emosi positif melalui visualisasi protektif yang selaras dengan panduan materi Double Pink Program Mengakses Energi Cinta Kasih Sayang Universal.  Beliau menekankan bahwa dalam menghadapi situasi penuh tekanan seperti menunggu dan menghadapi ujian promosi, seseorang harus mampu mengelola frekuensi dan vibrasi pikirannya untuk memancarkan warna yang spesifik, yaitu warna merah muda atau pink terang benderang seperti hologram, ke alam semesta serta secara khusus diarahkan kepada para calon dosen penguji. Energi Kasih Sayang ini pada hakikatnya adalah Energi Ketuhanan yang bertindak sebagai stempel Tuhan, mengingat seluruh makhluk di alam semesta diciptakan atas dasar sifat kasih dan sayang-Nya yang memiliki daya khasiat luar biasa. Melalui teknik pemakrifatan atau penyelubungan diri dengan energi berwarna pink hologram yang cahayanya mampu menerobos ke semua dimensi tanpa terhalang apa pun, pengaktifan energi kasih sayang universal ini membuat seseorang bermuatan kedamaian, terlindungi, sekaligus melunakkan ketegangan di ruang ujian, sehingga ia mampu tampil sebagai pribadi yang bermakna dan bermanfaat bagi dunia yang lebih baik.

Keluhan dan dinamika kehidupan kampus turut mewarnai ruang diskusi akademik ini ketika seorang mahasiswa bernama Yolanda memanfaatkan momentum untuk menyuarakan keresahannya di luar tema kesehatan medis. Yolanda mengaitkan kondisi tekanan mental yang dialaminya dengan lingkaran kesulitan dalam mendapatkan persetujuan atau Acc judul skripsi dari dosen pembimbing yang tak kunjung ia peroleh. Hambatan birokrasi dan komunikasi dalam proses pengajuan judul skripsi tersebut diakui sering kali menjadi sumber stres utama yang menurunkan imunitas dan mengganggu kesehatan pikiran para mahasiswa selama menempuh studi akhir di perguruan tinggi.

Dr. Ahmad Jais menanggapi rentetan pertanyaan tersebut dengan bijaksana, sekaligus menekankan kembali bahwa MHT tidak hadir untuk menggantikan peran pengobatan medis atau mengabaikan realitas luar, melainkan hadir sebagai pelengkap yang mengisi ruang batin yang sering luput disentuh. Acara yang juga dimeriahkan dengan pemberian paket makan siang gratis bagi lima belas pengunjung pertama ini berhasil diselesaikan dengan membawa pesan yang mendalam. Pertemuan ilmiah ini pada akhirnya berhasil membuka gerbang literasi yang bermakna bagi masyarakat umum, menjadi sebuah seruan kemanusiaan bahwa ketenangan pikiran merupakan kunci utama untuk memperlakukan tubuh dan segala tekanan hidup dengan jauh lebih bijaksana.

 

 

#MindHealingTechnique

#BukanTubuhmuYangSakitTapiPikiranmu

#FUSHAIainPontianak

#DiskusiDosenFUSHA

#AutoimunLupus

 #Psikoneuroimunologi

#KesehatanMental

#LiterasiKesehatan

 #UntanDanIainSinergi

#StresSkripsi

#UjianPromosiDoktor

#PenyelubunganEnergiPink

#DoublePinkProgram

#YouAreWhatYouThink

#RelaksTenangDamai

 

0 Comments

Follow Me On Instagram