Menggugat Paradigma Sakit: Ketika Ketenteraman Jiwa Menjadi Episentrum Kesembuhan Fisik
Oleh: S. Wahyu Nirmala
PADA HARI INI, suasana Ruang 310 Tower C Lantai 2 Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSHA) IAIN Pontianak tampak sangat berbeda dari biasanya saat puluhan pasang mata yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, serta para penggiat literasi berkumpul dengan antusiasme tinggi
Dr. Ahmad
Jais membuka pemaparannya dengan menjabarkan realitas pelik mengenai penyakit
autoimun, khususnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau Lupus, yang
hingga tahun 2026 ini di ranah konvensional dinilai belum bisa disembuhkan
secara total dengan obat-obatan biasa. Autoimun dipandang sebagai anomali
biologis di mana sistem kekebalan justru berbalik menyerang sel dan jaringan
tubuh sendiri, dengan gejala yang sangat bervariasi dari kelelahan kronis
hingga ruam kupu-kupu sehingga dijuluki penyakit seribu wajah. Pengobatan
konvensional sering kali hanya mampu mengantarkan pasien sampai ke garis finish
penanganan fisik, namun menyisakan ruang batin yang kosong dan rapuh bagi para
penyintasnya.
Dinamika
emosional ternyata berkorelasi langsung dengan kesehatan fisik, sebagaimana
ditunjukkan melalui data Emotional Timeline dari kisah nyata seorang
klien penderita Lupus di Metro, Lampung. Data empiris tersebut membuktikan
adanya hubungan sebab-akibat yang kuat, di mana konflik perkawinan yang
berlarut pada tahun 2015 memicu radang sendi pertama, beban pengurus yayasan
pada tahun 2017 memperburuk kondisi kulit, kesedihan mendalam atas kepergian
ibunda pada tahun 2019 memperluas gejala, hingga kecemasan akibat pandemi pada
tahun 2021 memicu fase kekambuhan terberat. Melalui kacamata
psikoneuroimunologi, pikiran negatif terbukti bertindak sebagai stimulan
destruktif yang merusak arsitektur saraf dan memicu peradangan sistemik,
sehingga kesembuhan sejati harus dimulai dengan memprogram ulang cara manusia
berpikir.
Formula Mind Healing Technique (MHT) kemudian diperkenalkan sebagai jalan baru yang berfokus pada pembangkitan energi pikiran melalui pembersihan trauma batin dan optimisme yang terukur. Pendekatan ini ditopang oleh tiga pilar utama yakni Mind Energy, Reprogramming melalui kata-kata positif Relaks-Tenang-Damai (RTD) serta visualisasi, dan Focused Intention untuk memulihkan koherensi tubuh. Ikhtiar non-material ini memiliki landasan teologis yang sangat kokoh dalam Islam, merujuk pada hadis riwayat Imam Muslim bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya dan akan sembuh atas izin Allah, menegaskan bahwa pembenahan pikiran dan hati merupakan bagian dari syariat penyembuhan.
Suasana
ruang diskusi menjadi semakin hidup dan interaktif ketika sesi tanya jawab
dibuka bagi para peserta yang memadati ruangan. Pak Lukman Abdul Jabbar
mengajukan sebuah catatan kritis yang mendalam mengenai batasan metode ini,
dengan menegaskan sudut pandang bahwa sejatinya tidak semua penyakit dapat
disembuhkan secara mutlak hanya oleh pikiran semata karena adanya faktor
biologis murni. Beliau menggarisbawahi bahwa poin esensial dari pendekatan ini
adalah bagaimana pikiran manusia dapat secara sadar diarahkan, dilatih, dan
dikelola untuk membangun resiliensi tubuh, sehingga mampu bertindak sebagai
motor penggerak utama dalam membantu proses penyembuhan penyakit.
Ketegangan
mental dalam menghadapi fase krusial akademik juga dikupas ketika seorang
tenaga kependidikan bernama Sri Wahyuni menyampaikan keluhannya mengenai kecemasan
emosional dan rasa ketakutan yang masih sering dialaminya karena belum kunjung
mendapatkan kepastian jadwal ujian disertasi. Menanggapi problem psikologis
tersebut, Dr. Ahmad Jais memberikan sebuah solusi aplikatif berbasis proyeksi
energi emosi positif melalui visualisasi protektif yang selaras dengan panduan
materi Double Pink Program Mengakses Energi Cinta Kasih Sayang Universal. Beliau menekankan bahwa
dalam menghadapi situasi penuh tekanan seperti menunggu dan menghadapi ujian
promosi, seseorang harus mampu mengelola frekuensi dan vibrasi pikirannya untuk
memancarkan warna yang spesifik, yaitu warna merah muda atau pink terang
benderang seperti hologram, ke alam semesta serta secara khusus diarahkan
kepada para calon dosen penguji. Energi Kasih Sayang ini pada hakikatnya adalah
Energi Ketuhanan yang bertindak sebagai stempel Tuhan, mengingat seluruh
makhluk di alam semesta diciptakan atas dasar sifat kasih dan sayang-Nya yang
memiliki daya khasiat luar biasa. Melalui teknik pemakrifatan atau
penyelubungan diri dengan energi berwarna pink hologram yang cahayanya mampu
menerobos ke semua dimensi tanpa terhalang apa pun, pengaktifan energi kasih
sayang universal ini membuat seseorang bermuatan kedamaian, terlindungi,
sekaligus melunakkan ketegangan di ruang ujian, sehingga ia mampu tampil
sebagai pribadi yang bermakna dan bermanfaat bagi dunia yang lebih baik.
Keluhan
dan dinamika kehidupan kampus turut mewarnai ruang diskusi akademik ini ketika
seorang mahasiswa bernama Yolanda memanfaatkan momentum untuk menyuarakan
keresahannya di luar tema kesehatan medis. Yolanda mengaitkan kondisi tekanan
mental yang dialaminya dengan lingkaran kesulitan dalam mendapatkan persetujuan
atau Acc judul skripsi dari dosen pembimbing yang tak kunjung ia
peroleh. Hambatan birokrasi dan komunikasi dalam proses pengajuan judul skripsi
tersebut diakui sering kali menjadi sumber stres utama yang menurunkan imunitas
dan mengganggu kesehatan pikiran para mahasiswa selama menempuh studi akhir di
perguruan tinggi.
Dr. Ahmad
Jais menanggapi rentetan pertanyaan tersebut dengan bijaksana, sekaligus
menekankan kembali bahwa MHT tidak hadir untuk menggantikan peran pengobatan
medis atau mengabaikan realitas luar, melainkan hadir sebagai pelengkap yang
mengisi ruang batin yang sering luput disentuh. Acara yang juga dimeriahkan
dengan pemberian paket makan siang gratis bagi lima belas pengunjung pertama
ini berhasil diselesaikan dengan membawa pesan yang mendalam. Pertemuan ilmiah
ini pada akhirnya berhasil membuka gerbang literasi yang bermakna bagi
masyarakat umum, menjadi sebuah seruan kemanusiaan bahwa ketenangan pikiran
merupakan kunci utama untuk memperlakukan tubuh dan segala tekanan hidup dengan
jauh lebih bijaksana.
#MindHealingTechnique
#BukanTubuhmuYangSakitTapiPikiranmu
#FUSHAIainPontianak
#DiskusiDosenFUSHA
#AutoimunLupus
#Psikoneuroimunologi
#KesehatanMental
#LiterasiKesehatan
#UntanDanIainSinergi
#StresSkripsi
#UjianPromosiDoktor
#PenyelubunganEnergiPink
#DoublePinkProgram
#YouAreWhatYouThink
#RelaksTenangDamai

0 Comments