Tafsir Ekologi di Selasar FUSHA: Membumikan Gagasan Dr. Luqman Abdul Jabbar lewat Aksi Nyata Memilah Sampah, Menghemat Air, dan Energi
By: S. Wahyu Nirmala
Pagi itu, Senin 15 Juni 2026, atmosfer di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSHA) IAIN Pontianak terasa berbeda. Di bawah bimbingan Dr. Luqman Abdul Jabbar, S.Ag., M.S.I., ruang kelas mata kuliah Tafsir Ekologi tidak lagi sekadar menjadi tempat beradu argumen dan mengkaji teks-teks suci. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir memutuskan untuk melangkah lebih jauh, membawa untaian ayat Al-Qur'an langsung ke atas tanah dan menyentuh realitas bumi yang kian menua melalui serangkaian proyek kerja nyata yang digerakkan secara sinergis oleh kelas A dan kelas B.
Pergerakan taktis ini dibagi ke dalam tiga fokus utama,
yaitu sampah, air, dan listrik. Pada sektor pengelolaan limbah, kelompok sampah
yang dikoordinatori oleh Muhammad Riyanto di kelas B melakukan aksi penempelan
stiker edukatif pada tong sampah guna memisahkan secara tegas antara sampah
organik dan non-organik. Langkah ini diperkuat dengan penempelan poster anjuran
membuang sampah pada tempatnya di berbagai sudut dinding strategis, serta
penyebaran pamflet digital di media sosial sebagai ruang edukasi visual bagi
seluruh mahasiswa, khususnya di lingkungan FUSHA.
Di sisi lain, sektor penghematan energi atau kelompok listrik bergerak serentak di kedua kelas. Di bawah komando Dewi Putri Ariyanti dan Abdul Khobir sebagai penggerak dari kelas A, serta Latifah Syifa Qalbia selaku koordinator dari kelas B, mereka mengawal gerakan pentingnya menjaga fasilitas kampus dan bijak dalam menggunakan daya listrik. Gerakan ini dilakukan untuk menciptakan lingkungan mahasiswa yang penuh kesadaran, sekaligus menjadi contoh nyata agar seluruh civitas akademika memiliki tanggung jawab moral sebagai manusia yang mengemban amanah agung sebagai khalifah di muka bumi.
Sementara itu, sektor penyelamatan air dikomandoi oleh Zahra di kelas A dan Alif Naufal Muzakki di kelas B. Gerakan ini diwujudkan secara konkret melalui penempelan poster edukasi hemat air di area sensitif seperti toilet dan tempat wudhu Masjid Ar-Rany, serta pembagian lebih dari seratus stiker bertuliskan "Hemat Air Selamatkan Masa Depan". Secara berkesinambungan, mereka juga tengah menyusun video kartun edukasi yang akan disebarluaskan melalui akun Instagram resmi IAT sebagai media dakwah ekologis yang modern.
Gerakan mulia yang lahir di lingkungan FUSHA ini
memiliki akar teologis yang sangat kokoh, sejalan dengan garis besar Ekoteologi
yang kerap dikampanyekan oleh Kementerian Agama RI. Dalam berbagai panduan
resminya, Kementerian Agama senantiasa menegaskan bahwa manifestasi dari Islam
sebagai Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi semesta alam) adalah lahirnya
tanggung jawab etis untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Dasar pergerakan ini
kian berbobot ketika disandingkan dengan peringatan nyata dalam Al-Qur'an Surah
Ar-Rum ayat 41, yang menarasikan secara benderang bahwa kerusakan di darat dan
di laut adalah akibat langsung dari ulah tangan manusia sendiri. Melalui tafsir
ekologi yang aplikatif ini, para mahasiswa ingin membalikkan narasi buruk
tersebut menjadi sebuah aksi pemulihan. Konsep ini sejalan dengan buku saku
Fiqh al-Bi’ah (Fiqh Lingkungan) cetakan Kementerian Agama serta pemikiran
ekologis tokoh seperti Seyyed Hossein Nasr, yang mengingatkan bahwa krisis
lingkungan hari ini sebenarnya adalah refleksi dari krisis spiritual manusia.
Namun, keberhasilan jangka panjang dari seluruh rantai
gerakan ekoteologi ini tentu tidak dapat bertumpu pada pundak mahasiswa saja,
melainkan membutuhkan komitmen dan dukungan sinergis dari semua pihak yang
berada di dalam kampus, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan,
security, hingga petugas kebersihan atau office boy (OB). Sebagai contoh konkret, peran para
petugas kebersihan menjadi salah satu kunci utama di garis depan. Ketika
mengosongkan bak-bak sampah pilah yang telah disiapkan, hasil sampah tersebut
juga harus dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kemasan sampah besar yang sudah
terpisah antara organik dan non-organiknya. Tanpa adanya keselarasan tindakan
dari hulu ke hilir seperti ini, pemilahan yang sudah diupayakan sejak awal akan
menjadi sia-sia. Untuk itu, para mahasiswa juga sangat memohon bantuan serta
dukungan dari seluruh dosen pengampu mata kuliah yang ada di lingkungan FUSHA
untuk ikut serta mensosialisasikan, mengingatkan, dan mengawal gerakan ini di
sela-sela perkuliahan kepada mahasiswa di kelas masing-masing.
Lebih dari itu, proyek ini menjadi sebuah pemantik
harapan besar bagi dunia akademik. Ke depan, semangat ekoteologi ini diharapkan
tidak hanya berhenti di mata kuliah Tafsir Ekologi. Berbagai mata kuliah lain
di lingkungan kampus seyogianya mampu mengadopsi semangat yang sama,
mentransformasikan teori ilmu pengetahuan menjadi aksi nyata yang berdampak
langsung pada kelestarian alam dan kesejahteraan manusia di bumi. Ini adalah
sebuah stimulasi kesadaran yang diharapkan tidak layu setelah tugas kuliah
usai, melainkan terus tumbuh, konsisten, dan menular bagai virus kebaikan ke
seluruh unit, fakultas, dan lembaga yang ada di lingkungan IAIN Pontianak.
Sebuah langkah awal dari FUSHA, untuk masa depan peradaban yang harmonis dan
berkelanjutan.
#TafsirEkologiFUSHA
#IAINPontianak
#FUSHABerdampak
#EkoteologiIslam
#KemenagRI
#KampusHijau
#AksiNyataMemilahSampah
#GerakanFUSHAMemilah
#HematAirHematEnergi
#FUSHAIAINPontianak

0 Comments