Wikipedia

Hasil penelusuran

Membedah Polikrisis Bangsa bersama Andy Yentriyani: Mengapa Solusi Kebangsaan Harus Membumi ke Akar Rumput?

 

Oleh: S Wahyu Nirmala

 


Arus globalisasi yang deras dan tantangan zaman yang kompleks kian hari kian menguji identitas kebangsaan kita, seolah menyeret bangsa ini ke dalam berbagai krisis yang mengaburkan jati diri. Upaya menyalakan kembali api nasionalisme agar tetap teguh menghadapi pusaran multikrisis menjadi tanggung jawab besar kita sebagai masyarakat majemuk. Kesadaran akan hal inilah yang membawa langkah saya untuk ikut serta dalam agenda luar biasa yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Kalimantan Barat pada Kamis, 04 Juni 2026. Bertempat di Aula Garuda Kantor Gubernur Kalbar, Seminar Kebangsaan bertajuk "Nilai Kebangkitan Nasional Sebagai Cahaya di Tengah Pusaran Multikrisis Identitas Kebangsaan" hadir menjadi ruang diskusi mencerahkan bersama para tokoh, pemikir, dan pembuat kebijakan nasional.



Andy Yentriyani, S.Sos., MA, yang menjabat sebagai Dewan Penasihat IKAL Kalbar, menjadi salah satu narasumber hebat yang paling memikat perhatian saya dalam forum tersebut. Beliau merupakan sosok ilmuwan sosial, akademisi, dan aktivis gender terkemuka di Indonesia yang saat ini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Nasional Perempuan (Thn 2020-2025). Lahir di Pontianak, perempuan berdarah Tionghoa ini memiliki rekam jejak panjang dalam mengadvokasi hak-hak kelompok minoritas, korban kekerasan, serta isu-isu perdamaian di tanah air. Kehadirannya di tanah kelahiran untuk berbagi perspektif kebangsaan memberikan bobot pemikiran yang sangat mendalam, teoretis sekaligus membumi, terutama saat menguliti tantangan yang dihadapi bangsa saat ini.


Materi paparan beliau membedah secara tajam lapis masalah multikrisis identitas kebangsaan yang sedang mengepung kita. Hilangnya role model atau keteladanan dari para pemimpin menjadi salah satu akar persoalan yang sangat terasa karena mengakibatkan erosi kewibawaan kepemimpinan. Krisis ini diperparah oleh krisis institusional akibat korupsi dan primordialisme, serta pemiskinan struktural yang memperlebar jurang ketimpangan ekonomi warga. Hantaman digitalisasi dan globalisasi di sisi lain membawa paradoks tersendiri yang memicu anonimitas dan perang algoritma, sementara dunia pendidikan kita masih terjebak dalam model pendidikan konservatif yang bercorak normatif-formal, menekankan hafalan, serta minim ruang reflektif-kritis.

Peta masalah yang begitu kompleks ini memunculkan serangkaian tantangan nyata yang harus dihadapi dalam menyikapi polikrisis global tersebut. Kita dituntut bertarung melawan pragmatisme akut, mentalitas serba instan, dan perilaku reaktif yang telah menginternalisasi di dalam masyarakat. Politik transaksional yang merusak tatanan demokrasi serta langgengnya status quo relasi kuasa yang timpang juga menjadi dinding tebal yang harus ditembus jika ingin melakukan perubahan substantif. Tantangan digital war pun tidak kalah mengkhawatirkan karena terus menggerus kohesi sosial melalui polarisasi di ruang siber.


Andy Yentriyani menawarkan sejumlah usulan solusi strategis yang konkret melalui gerakan "Ikhtiar Bestari" sebagai jalan keluar. Reorganisasi sistem demokrasi kita menjadi langkah awal yang dimulai melalui penataan ulang mekanisme check-and-balances antar-institusi serta penerapan meritokrasi yang adil. Pemerintah dan pemangku kebijakan didorong untuk memperkuat pelayanan publik berkualitas, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, serta memastikan program kesejahteraan warga yang berkelanjutan demi kemandirian ekonomi. Inovasi pendidikan literasi kewargaan lintas sektor wajib digalakkan guna membangun ruang interaksi yang sehat dan mengembalikan peran media sebagai pilar demokrasi.

Gagasan menarik beliau mengenai pentingnya internalisasi nilai lokal tercermin nyata dalam pembahasan mengenai seragam sekolah bermotif batik khas daerah. Pembahasan ini seketika memantik diskusi kecil bagi saya di sela-sela makan siang bersama sahabat-sahabat panitia lainnya. Perbincangan kami bermuara pada kesimpulan bahwa jika setiap pemerintah daerah berani melahirkan peraturan daerah yang mewajibkan penggunaan batik khas wilayahnya, dampaknya akan sangat masif. Kebijakan ini tidak sekadar menjadi bahan promosi kekhasan dan keunikan masing-masing wilayah, atau sekadar memperkaya khasanah pelestarian budaya nusantara, melainkan menjadi pilar kokoh yang langsung mendongkrak kesejahteraan ekonomi para pengrajin batik tradisional di akar rumput. Catatan kritis yang disayangkan oleh beliau tetap menjadi perhatian penting, yaitu kenyataan bahwa hingga saat ini sebagian besar kain batik tersebut pabrikasi dan produksinya masih berpusat di Pulau Jawa, sehingga esensi kemandirian serta kedaulatan ekonomi daerah belum sepenuhnya berputar di daerah asal.

Analogi yang sangat filosofis tentang hakikat ilmu pengetahuan dari paparan beliau juga sangat menggetarkan kesadaran saya. Beliau menegaskan bahwa seorang nelayan tradisional sesungguhnya akan jauh lebih mengetahui dan memahami realitas daripada seorang ilmuwan yang hanya membaca buku tentang air atau tentang sungai. Nelayan tersebut dibentuk oleh lembaran pengalaman hidup yang luar biasa, berinteraksi langsung dengan alam, membaca arah angin, serta merasakan langsung pasang surutnya arus setiap hari—sebuah kearifan empiris yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh sekadar hafalan teori tekstual. Pandangan ini seolah mengingatkan saya secara pribadi, bahwa ruang praktik dan kedekatan dengan realitas kehidupan adalah kunci utama yang selama ini hilang dari budaya lembaga pendidikan kita.



Refleksi yang disampaikan Andy Yentriyani mengisyaratkan bahwa penyikapan terhadap krisis kebangsaan tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara yang biasa. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman pendidikan yang konservatif sangat diperlukan agar kita bisa mulai membuka ruang-ruang interaksi nyata yang inklusif. Institusi negara yang diperkuat, kesejahteraan warga yang disokong melalui kemandirian lokal, serta literasi kewargaan yang dihidupkan kembali akan membuat nilai-nilai Kebangkitan Nasional yang kita peringati tidak sekadar menjadi ornamen sejarah, melainkan pemandu arah keluar dari multikrisis.



Pemikiran mendalam ini pada akhirnya menuntun ingatan kita pada sebuah pesan emas dari sang Proklamator bangsa, Mohammad Hatta, sebuah kutipan legendaris yang sangat mendalam untuk direnungkan bersama: "Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki." Ungkapan Bung Hatta ini menjadi penutup narasi yang sempurna untuk mengunci komitmen kita selepas seminar. Pusaran multikrisis identitas yang melanda menuntut kita untuk paham bahwa kecerdasan akademis dan kecakapan profesi memang penting, namun kejujuran, ketulusan merawat keberagaman, serta integritas morallah yang akan menjadi cahaya penuntun utama untuk menjaga martabat bangsa ini agar tetap tegak berdiri.

 

#LestarikanBudaya
#BatikLokal
#PesonaBatikNusantara
#KedaulatanEkonomi
#PengrajinBatik
#CintaProdukLokal
#KearifanLokal
#IkhtiarBestari
#KebangkitanNasional #IdentitasKebangsaan
#KarakterBangsa
#IntegritasHargaMati
#BungHatta Quote
#LemhannasKalbar

0 Comments

Follow Me On Instagram