Membedah Polikrisis Bangsa bersama Andy Yentriyani: Mengapa Solusi Kebangsaan Harus Membumi ke Akar Rumput?
Oleh: S Wahyu Nirmala
Arus globalisasi yang deras dan tantangan zaman yang kompleks kian hari kian menguji identitas kebangsaan kita, seolah menyeret bangsa ini ke dalam berbagai krisis yang mengaburkan jati diri. Upaya menyalakan kembali api nasionalisme agar tetap teguh menghadapi pusaran multikrisis menjadi tanggung jawab besar kita sebagai masyarakat majemuk. Kesadaran akan hal inilah yang membawa langkah saya untuk ikut serta dalam agenda luar biasa yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Kalimantan Barat pada Kamis, 04 Juni 2026. Bertempat di Aula Garuda Kantor Gubernur Kalbar, Seminar Kebangsaan bertajuk "Nilai Kebangkitan Nasional Sebagai Cahaya di Tengah Pusaran Multikrisis Identitas Kebangsaan" hadir menjadi ruang diskusi mencerahkan bersama para tokoh, pemikir, dan pembuat kebijakan nasional.
Andy Yentriyani, S.Sos., MA, yang menjabat sebagai Dewan Penasihat IKAL Kalbar, menjadi salah satu narasumber hebat yang paling memikat perhatian saya dalam forum tersebut. Beliau merupakan sosok ilmuwan sosial, akademisi, dan aktivis gender terkemuka di Indonesia yang saat ini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Nasional Perempuan (Thn 2020-2025). Lahir di Pontianak, perempuan berdarah Tionghoa ini memiliki rekam jejak panjang dalam mengadvokasi hak-hak kelompok minoritas, korban kekerasan, serta isu-isu perdamaian di tanah air. Kehadirannya di tanah kelahiran untuk berbagi perspektif kebangsaan memberikan bobot pemikiran yang sangat mendalam, teoretis sekaligus membumi, terutama saat menguliti tantangan yang dihadapi bangsa saat ini.
Materi
paparan beliau membedah secara tajam lapis masalah multikrisis identitas
kebangsaan yang sedang mengepung kita. Hilangnya role model atau
keteladanan dari para pemimpin menjadi salah satu akar persoalan yang sangat
terasa karena mengakibatkan erosi kewibawaan kepemimpinan. Krisis ini
diperparah oleh krisis institusional akibat korupsi dan primordialisme, serta
pemiskinan struktural yang memperlebar jurang ketimpangan ekonomi warga.
Hantaman digitalisasi dan globalisasi di sisi lain membawa paradoks tersendiri
yang memicu anonimitas dan perang algoritma, sementara dunia pendidikan kita
masih terjebak dalam model pendidikan konservatif yang bercorak
normatif-formal, menekankan hafalan, serta minim ruang reflektif-kritis.
Peta masalah yang begitu kompleks ini memunculkan serangkaian tantangan nyata yang harus dihadapi dalam menyikapi polikrisis global tersebut. Kita dituntut bertarung melawan pragmatisme akut, mentalitas serba instan, dan perilaku reaktif yang telah menginternalisasi di dalam masyarakat. Politik transaksional yang merusak tatanan demokrasi serta langgengnya status quo relasi kuasa yang timpang juga menjadi dinding tebal yang harus ditembus jika ingin melakukan perubahan substantif. Tantangan digital war pun tidak kalah mengkhawatirkan karena terus menggerus kohesi sosial melalui polarisasi di ruang siber.
Andy
Yentriyani menawarkan sejumlah usulan solusi strategis yang konkret melalui
gerakan "Ikhtiar Bestari" sebagai jalan keluar. Reorganisasi sistem
demokrasi kita menjadi langkah awal yang dimulai melalui penataan ulang
mekanisme check-and-balances antar-institusi serta penerapan meritokrasi
yang adil. Pemerintah dan pemangku kebijakan didorong untuk memperkuat
pelayanan publik berkualitas, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, serta
memastikan program kesejahteraan warga yang berkelanjutan demi kemandirian
ekonomi. Inovasi pendidikan literasi kewargaan lintas sektor wajib digalakkan
guna membangun ruang interaksi yang sehat dan mengembalikan peran media sebagai
pilar demokrasi.
Gagasan
menarik beliau mengenai pentingnya internalisasi nilai lokal tercermin nyata
dalam pembahasan mengenai seragam sekolah bermotif batik khas daerah.
Pembahasan ini seketika memantik diskusi kecil bagi saya di sela-sela makan
siang bersama sahabat-sahabat panitia lainnya. Perbincangan kami bermuara pada
kesimpulan bahwa jika setiap pemerintah daerah berani melahirkan peraturan
daerah yang mewajibkan penggunaan batik khas wilayahnya, dampaknya akan sangat
masif. Kebijakan ini tidak sekadar menjadi bahan promosi kekhasan dan keunikan
masing-masing wilayah, atau sekadar memperkaya khasanah pelestarian budaya
nusantara, melainkan menjadi pilar kokoh yang langsung mendongkrak
kesejahteraan ekonomi para pengrajin batik tradisional di akar rumput. Catatan
kritis yang disayangkan oleh beliau tetap menjadi perhatian penting, yaitu
kenyataan bahwa hingga saat ini sebagian besar kain batik tersebut pabrikasi
dan produksinya masih berpusat di Pulau Jawa, sehingga esensi kemandirian serta
kedaulatan ekonomi daerah belum sepenuhnya berputar di daerah asal.
Analogi
yang sangat filosofis tentang hakikat ilmu pengetahuan dari paparan beliau juga
sangat menggetarkan kesadaran saya. Beliau menegaskan bahwa seorang nelayan
tradisional sesungguhnya akan jauh lebih mengetahui dan memahami realitas
daripada seorang ilmuwan yang hanya membaca buku tentang air atau tentang
sungai. Nelayan tersebut dibentuk oleh lembaran pengalaman hidup yang luar
biasa, berinteraksi langsung dengan alam, membaca arah angin, serta merasakan
langsung pasang surutnya arus setiap hari—sebuah kearifan empiris yang tidak
akan pernah bisa digantikan oleh sekadar hafalan teori tekstual. Pandangan ini
seolah mengingatkan saya secara pribadi, bahwa ruang praktik dan kedekatan
dengan realitas kehidupan adalah kunci utama yang selama ini hilang dari budaya
lembaga pendidikan kita.
Refleksi
yang disampaikan Andy Yentriyani mengisyaratkan bahwa penyikapan terhadap
krisis kebangsaan tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara yang biasa.
Keberanian untuk keluar dari zona nyaman pendidikan yang konservatif sangat
diperlukan agar kita bisa mulai membuka ruang-ruang interaksi nyata yang
inklusif. Institusi negara yang diperkuat, kesejahteraan warga yang disokong
melalui kemandirian lokal, serta literasi kewargaan yang dihidupkan kembali
akan membuat nilai-nilai Kebangkitan Nasional yang kita peringati tidak sekadar
menjadi ornamen sejarah, melainkan pemandu arah keluar dari multikrisis.
Pemikiran
mendalam ini pada akhirnya menuntun ingatan kita pada sebuah pesan emas dari
sang Proklamator bangsa, Mohammad Hatta, sebuah kutipan legendaris yang sangat
mendalam untuk direnungkan bersama: "Kurang cerdas dapat diperbaiki
dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak
jujur itu sulit diperbaiki." Ungkapan Bung Hatta ini menjadi penutup
narasi yang sempurna untuk mengunci komitmen kita selepas seminar. Pusaran
multikrisis identitas yang melanda menuntut kita untuk paham bahwa kecerdasan
akademis dan kecakapan profesi memang penting, namun kejujuran, ketulusan
merawat keberagaman, serta integritas morallah yang akan menjadi cahaya
penuntun utama untuk menjaga martabat bangsa ini agar tetap tegak berdiri.
#BatikLokal
#PesonaBatikNusantara
#KedaulatanEkonomi
#PengrajinBatik
#CintaProdukLokal
#KearifanLokal
#IkhtiarBestari
#KebangkitanNasional #IdentitasKebangsaan
#KarakterBangsa
#IntegritasHargaMati
#BungHatta Quote
#LemhannasKalbar

0 Comments