Wikipedia

Hasil penelusuran

Menemai Oase Pendidikan di Cerlang: Ikhtiar Merajut Jiwa Totto-chan dan Merawat Ruh Surau yang Runtuh (2)

 Oleh: S. Wahyu Nirmala


Langkah kaki kembali membawa saya melewati gerbang Cerlang untuk kedua kalinya, sebuah ruang belajar non-formal yang sejak kunjungan pertama telah memendarkan pesona luar biasa di hati saya. Atmosfer dinamis di dalamnya seketika membangkitkan memori kolektif masa-masa kuliah S1 dahulu, saat idealisme tentang pendidikan yang membebaskan masih menggebu-gebu di kepala. Pertemuan kedua ini terasa jauh lebih hidup karena kami berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana anak-anak merayakan masa kecil mereka; bermain sambil belajar, serta belajar di dalam ruang kelas dengan binar mata penuh rasa ingin tahu. Suasana kian hangat lantaran mereka tengah sibuk mempersiapkan prosesi pelepasan kelulusan kelas enam yang direncanakan berlangsung di kawasan Parit Mayor. Alih-alih terjebak dalam euforia formalitas wisuda modern yang riuh dengan baju toga dan segala kerumitan "printilannya", Cerlang memilih jalan yang bersahaja namun mendalam. Acara pelepasan itu dikemas dalam bentuk silaturahim dan gathering kekeluargaan. Sebuah terobosan nyata dalam menerapkan pembelajaran berbasis kehidupan nyata lewat pengalaman mengorganisasi acara secara mandiri.

Ada sebuah tradisi pelepasan yang sangat menyentuh nurani sekaligus sarat makna filosofis di sekolah ini. Sebagai ganti piala atau piagam formal, setiap anak yang lulus dibuatkan sebuah simbol berbentuk bintang yang di dalamnya terbingkai foto diri mereka untuk dibawa pulang ke rumah. Simbolisme ini seolah menyimpan pesan tersirat yang mendalam: bahwa setiap anak yang melangkah keluar dari Cerlang adalah bintang yang bersinar dengan cahayanya sendiri, dan kenangan masa kecil mereka di ruang belajar ini akan selalu menjadi kompas pembimbing ke mana pun mereka pergi.



Sebuah fakta edukatif yang sangat memikat terkuak ketika menguliti bagaimana sistem nilai keagamaan diinstitusikan di sekolah ini secara inklusif. Cerlang menegaskan bahwa penanaman moralitas spiritual bukan tugas tunggal sekolah formal, melainkan tanggung jawab bersama yang dikembangkan berbasis kemitraan dengan komunitas masing-masing anak. Murid-murid Muslim mendapatkan bimbingan dan evaluasi langsung dari guru TPA, guru ngaji di surau/masjid, hingga rumah-rumah tahfiz tempat mereka menimba ilmu. Anak-anak Kristen dinilai oleh guru sekolah minggu, begitupula dengan pemeluk agama lainnya yang mendapat pendampingan dari pemuka keyakinan mereka sendiri. Eksperimen kultural ini sangat sejalan dengan konsep ketauhidan dan keadilan sosiologis pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang memandang pendidikan Islam harus bersifat inklusif, humanis, menghargai lokalitas, serta mampu menjadi payung keteduhan bagi pluralitas elemen bangsa.

Konsep pengawalan moral ini dirajut melalui adopsi sistem kontrol warisan masa pandemi Covid-19 yang dimodifikasi secara apik dan berkelanjutan. Buku evaluasi ibadah harian yang dahulu wajib ditandatangani oleh pemuka agama atau pendamping iman saat ritual keagamaan tetap dipertahankan sebagai instrumen refleksi diri murid. Keunikan spiritualitas universal juga mewujud begitu indah dalam ritus keseharian, salah satunya tampak saat momentum makan bersama. Anak-anak dari berbagai latar belakang keyakinan duduk melingkar, menundukkan kepala, lalu merapalkan doa bersyukur secara bersama-sama dalam bahasa Indonesia. Untaian kalimat universal yang memohon keberkahan ini menjelma menjadi jembatan humanis yang menyatukan perbedaan teologis tanpa melunturkan identitas keimanan masing-masing, sekaligus menjadi perekat sosial yang sangat alami.



Di sisi lain, manajemen sekolah juga memperlihatkan tata kelola yang sangat fungsional dan responsif terhadap kebutuhan riil di lapangan. Cerlang menerima bantuan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah, dan alokasinya dimanfaatkan secara cerdas untuk menghadirkan kenyamanan belajar yang hakiki. Dana tersebut salah satunya dialokasikan untuk pengadaan mesin pendingin ruangan (AC) yang dipasang di ruangan-ruangan tertentu. Pemasangan AC ini terasa amat sangat krusial dan mendesak, mengingat karakteristik geografis Kota Pontianak yang dilintasi garis khatulistiwa terkenal dengan suhu udaranya yang begitu panas menyengat. Melalui langkah proporsional ini, sekolah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang sejuk dan kondusif, sehingga konsentrasi anak-anak dalam menyerap ilmu tidak terganggu oleh faktor cuaca ekstrem.

Falsafah kemanusiaan yang dijunjung tinggi di Cerlang melahirkan sebuah kebijakan akademis yang sangat menyentuh nurani, di mana tidak ada kasta kepintaran atau pelabelan tertentu bagi anak. Pihak sekolah secara sadar meniadakan kategori anak paling rajin, anak paling ramah, anak paling sopan, anak paling baik, anak yang suka menolong, ataupun kriteria eksklusif lainnya di setiap jenjang kelas. Ketiadaan pelabelan ini merefleksikan pemikiran emas Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah yang melarang keras pendekatan koersif, diskriminatif, dan pemaksaan psikologis dalam mendidik anak karena hal itu dapat mematikan karakter alami serta kreativitas jiwa mereka. Prinsip utama yang dipegang teguh adalah bahwa tidak ada satu anak pun yang dianggap paling istimewa karena pada hakikatnya semua anak dan setiap anak adalah istimewa tanpa terkecuali.

Ruang belajar ini memosisikan semua anak sebagai juara sejati atas dasar penghargaan mendalam terhadap proses belajar yang telah mereka lalui secara mandiri, sehingga tidak ada ruang untuk polarisasi karena setiap individu adalah yang terbaik. Pola ini sejalan dengan konsepsi fitrah kemanusiaan yang digagas oleh Al-Ghazali, di mana setiap anak terlahir sebagai kertas putih yang suci dengan membawa potensi kebaikan bawaannya masing-masing. Tugas pendidik dalam sudut pandang religius ini bukanlah melabeli atau membanding-bandingkan pencapaian lahiriah anak, melainkan mengasah, menuntun, dan menumbuhkan potensi fitrah tersebut agar berkembang secara seimbang. Melalui sistem penilaian diri sendiri yang tidak menekan, Cerlang sukses mempraktikkan pendidikan karakter yang menekankan kebersihan jiwa, kemandirian spiritual, serta hilangnya rasa takut salah di hadapan sesama manusia.

Kemandirian yang dipupuk sejak dini terbukti membuahkan hasil nyata ketika anak-anak secara formal meninggalkan bangku sekolah dasar. Rasa kepemilikan yang mendalam serta kerinduan kolektif untuk terus merajut kebersamaan mendorong para alumni membentuk sebuah ekosistem mandiri berupa komunitas baca. Anak-anak yang kini telah melangkah ke jenjang sekolah menengah tersebut mengorganisasi diri mereka sendiri secara independen. Mereka merumuskan nama komunitas, menetapkan titik kumpul pergerakan, hingga merancang konsep kegiatan literasi yang adaptif tanpa intervensi dominan dari orang dewasa. Fenomena ini membuktikan bahwa benih kemandirian berpikir, keberanian mengambil keputusan, dan kebiasaan berkolaborasi yang ditanamkan sejak dini telah mengakar kuat sebagai bekal hidup yang jauh lebih berharga daripada sekadar nilai ujian di atas kertas.



Perbincangan hangat yang mengalir bersama pendiri sekolah, Kak Sri Wartati, membuka cakrawala baru yang jauh lebih menantang sekaligus menggembirakan bagi kami. Kehadiran saya saat itu ditemani oleh Dian Aprilia Manasae, sahabat baru saya asal Toraja sesama alumni Lemhannas yang sangat bersemangat untuk mengunjungi sekolah ini. Sosok inspiratif Kak Sri yang merupakan lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris Sanata Dharma dan peraih gelar S2 dari Universitas Indonesia ini secara terbuka mengajak kami untuk bersama-sama mempelopori berdirinya jenjang SMP di sekolah tersebut. Ajakan kolaborasi ini terasa seperti pucuk dicinta ulam tiba, mengingat kami menangkap adanya frekuensi visi yang sama untuk menghadirkan model pendidikan tingkat menengah yang tetap memanusiakan manusia secara utuh dan menghindari jebakan pendidikan semu.

Gagasan visioner Kak Sri dalam mengelola Cerlang rupanya banyak diilhami oleh memoar legendaris Totto-chan: Gadis Kecil di Jendela. Kisah nyata tentang keunikan cara pandang seorang anak bernama Totto-chan yang sempat dikeluarkan dari sekolah konvensional namun kemudian menemukan rumah jiwanya di Tomoe Gakuen menjadi ruh utama pergerakan di sini. Sekolah ini mengadopsi keyakinan teguh Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak baik dan keunikan potensinya masing-masing yang tidak boleh diseragamkan oleh kurikulum yang kaku. Melalui pendekatan yang serupa dengan Tomoe Gakuen, Cerlang memosisikan diri sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk mengeksplorasi bakat alami mereka, di mana guru berperan sebagai teman pendamping dan fasilitator yang tulus mendengarkan, bukan sebagai penguasa kelas.

Diskusi kami mengalir kian mendalam saat Kak Sri merefleksikan cerpen legendaris Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis untuk memotret realitas pendidikan agama kontemporer. Di era modern ini, kesibukan hidup dan teralihnya perhatian masyarakat urban sering kali membuat fungsi tradisional surau atau masjid sebagai pusat utama interaksi sosial dan ruang belajar agama anak-anak menjadi sunyi. Fenomena menjamurnya rumah tahfiz di luar lingkungan masjid, di satu sisi memang mengurangi keramaian anak mengaji di surau konvensional, namun di sisi lain merupakan potensi besar yang harus dirangkul. Terinspirasi dari analogi "robohnya surau" tersebut, Cerlang melakukan ikhtiar kultural untuk membangun kembali peran-peran spiritual yang sempat renggang itu melalui kolaborasi institusional yang apik.

Cerlang secara sadar membagi ruang evaluasi keagamaan secara proporsional. Untuk nilai praktik formalitas beragama dan pendampingan iman, sekolah sepenuhnya memercayakan dan mengambil nilainya dari tempat ibadah, guru ngaji, rumah tahfiz, serta orang tua sebagai madrasah utama yang mewariskan agama tersebut. Sementara itu, pihak sekolah berperan mengamati, mengawal, dan menumbuhkan praktik-praktik baik keagamaan siswa dalam hubungannya dengan sesama manusia dan kelestarian lingkungan. Revitalisasi fungsi ini sangat selaras dengan cita-cita pembaharuan pendidikan Islam bentukan KH Ahmad Dahlan yang menghendaki integrasi fungsional antara penguasaan ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, serta pemurnian nilai keagamaan yang dipraktikkan langsung dalam aksi nyata.


Wawasan pendidikan yang diterapkan oleh Kak Sri Wartati memiliki fondasi empiris yang kokoh berkat pengalaman teacher exchange yang membuatnya berkesempatan mengajar di Australia. Pengalaman mengajar di luar negeri tersebut telah menempa perspektifnya dalam melihat alternatif-alternatif pengembangan karakter anak secara global dengan pendekatan yang adaptif dan inklusif. Rekam jejak internasional tersebut dikombinasikan dengan kearifan lokal, melahirkan konsep Cerlang yang hibrid, dinamis, serta sangat selaras dengan landasan hukum Pasal 3 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 maupun wacana penguatan nilai ketuhanan dalam revisi undang-undang. Pertemuan sore itu akhirnya ditutup dengan komitmen kuat untuk saling bahu-membahu, menyumbangkan pemikiran dan daya, demi mewujudkan kelanjutan estafet pendidikan tingkat menengah yang membebaskan, inklusif, dan penuh dengan napas kedamaian.

#SekolahCerlang 
#RefleksiPendidikan 
#PendidikanMembebaskan 
#CatatanSriWahyuni 
#TriPusatPendidikan 
#FitrahAnak 
#TottoChan 
#RobohnyaSurauKami 
#HumanismeIslam 
#PendidikanInklusif 
#PendidikanKarakter 
#MerdekaBelajar 
#SahabatLiterasi 
#KomunitasBaca

 

0 Comments

Follow Me On Instagram