Menemai Oase Pendidikan di Cerlang: Ikhtiar Merajut Jiwa Totto-chan dan Merawat Ruh Surau yang Runtuh (2)
Oleh: S. Wahyu Nirmala
Langkah kaki kembali membawa saya melewati gerbang Cerlang
untuk kedua kalinya, sebuah ruang belajar non-formal yang sejak kunjungan
pertama telah memendarkan pesona luar biasa di hati saya. Atmosfer dinamis di
dalamnya seketika membangkitkan memori kolektif masa-masa kuliah S1 dahulu,
saat idealisme tentang pendidikan yang membebaskan masih menggebu-gebu di
kepala. Pertemuan kedua ini terasa jauh lebih hidup karena kami berkesempatan
menyaksikan langsung bagaimana anak-anak merayakan masa kecil mereka; bermain
sambil belajar, serta belajar di dalam ruang kelas dengan binar mata penuh rasa
ingin tahu. Suasana kian hangat lantaran mereka tengah sibuk mempersiapkan
prosesi pelepasan kelulusan kelas enam yang direncanakan berlangsung di kawasan
Parit Mayor. Alih-alih terjebak dalam euforia formalitas wisuda modern yang
riuh dengan baju toga dan segala kerumitan "printilannya", Cerlang
memilih jalan yang bersahaja namun mendalam. Acara pelepasan itu dikemas dalam
bentuk silaturahim dan gathering kekeluargaan. Sebuah terobosan nyata
dalam menerapkan pembelajaran berbasis kehidupan nyata lewat pengalaman
mengorganisasi acara secara mandiri.
Ada sebuah tradisi pelepasan yang sangat menyentuh nurani
sekaligus sarat makna filosofis di sekolah ini. Sebagai ganti piala atau piagam
formal, setiap anak yang lulus dibuatkan sebuah simbol berbentuk bintang yang
di dalamnya terbingkai foto diri mereka untuk dibawa pulang ke rumah.
Simbolisme ini seolah menyimpan pesan tersirat yang mendalam: bahwa setiap anak
yang melangkah keluar dari Cerlang adalah bintang yang bersinar dengan
cahayanya sendiri, dan kenangan masa kecil mereka di ruang belajar ini akan
selalu menjadi kompas pembimbing ke mana pun mereka pergi.
Sebuah fakta edukatif yang sangat memikat terkuak ketika
menguliti bagaimana sistem nilai keagamaan diinstitusikan di sekolah ini secara
inklusif. Cerlang menegaskan bahwa penanaman moralitas spiritual bukan tugas
tunggal sekolah formal, melainkan tanggung jawab bersama yang dikembangkan
berbasis kemitraan dengan komunitas masing-masing anak. Murid-murid Muslim
mendapatkan bimbingan dan evaluasi langsung dari guru TPA, guru ngaji di
surau/masjid, hingga rumah-rumah tahfiz tempat mereka menimba ilmu. Anak-anak
Kristen dinilai oleh guru sekolah minggu, begitupula dengan pemeluk agama
lainnya yang mendapat pendampingan dari pemuka keyakinan mereka sendiri.
Eksperimen kultural ini sangat sejalan dengan konsep ketauhidan dan keadilan
sosiologis pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang memandang
pendidikan Islam harus bersifat inklusif, humanis, menghargai lokalitas, serta
mampu menjadi payung keteduhan bagi pluralitas elemen bangsa.
Konsep pengawalan moral ini dirajut melalui adopsi sistem
kontrol warisan masa pandemi Covid-19 yang dimodifikasi secara apik dan
berkelanjutan. Buku evaluasi ibadah harian yang dahulu wajib ditandatangani
oleh pemuka agama atau pendamping iman saat ritual keagamaan tetap
dipertahankan sebagai instrumen refleksi diri murid. Keunikan spiritualitas
universal juga mewujud begitu indah dalam ritus keseharian, salah satunya
tampak saat momentum makan bersama. Anak-anak dari berbagai latar belakang
keyakinan duduk melingkar, menundukkan kepala, lalu merapalkan doa bersyukur
secara bersama-sama dalam bahasa Indonesia. Untaian kalimat universal yang
memohon keberkahan ini menjelma menjadi jembatan humanis yang menyatukan
perbedaan teologis tanpa melunturkan identitas keimanan masing-masing,
sekaligus menjadi perekat sosial yang sangat alami.
Di sisi lain, manajemen sekolah juga memperlihatkan tata
kelola yang sangat fungsional dan responsif terhadap kebutuhan riil di
lapangan. Cerlang menerima bantuan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari
pemerintah, dan alokasinya dimanfaatkan secara cerdas untuk menghadirkan
kenyamanan belajar yang hakiki. Dana tersebut salah satunya dialokasikan untuk
pengadaan mesin pendingin ruangan (AC) yang dipasang di ruangan-ruangan
tertentu. Pemasangan AC ini terasa amat sangat krusial dan mendesak, mengingat
karakteristik geografis Kota Pontianak yang dilintasi garis khatulistiwa
terkenal dengan suhu udaranya yang begitu panas menyengat. Melalui langkah
proporsional ini, sekolah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang sejuk
dan kondusif, sehingga konsentrasi anak-anak dalam menyerap ilmu tidak
terganggu oleh faktor cuaca ekstrem.
Falsafah kemanusiaan yang dijunjung tinggi di Cerlang
melahirkan sebuah kebijakan akademis yang sangat menyentuh nurani, di mana
tidak ada kasta kepintaran atau pelabelan tertentu bagi anak. Pihak sekolah
secara sadar meniadakan kategori anak paling rajin, anak paling ramah, anak
paling sopan, anak paling baik, anak yang suka menolong, ataupun kriteria
eksklusif lainnya di setiap jenjang kelas. Ketiadaan pelabelan ini
merefleksikan pemikiran emas Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah yang melarang
keras pendekatan koersif, diskriminatif, dan pemaksaan psikologis dalam
mendidik anak karena hal itu dapat mematikan karakter alami serta kreativitas
jiwa mereka. Prinsip utama yang dipegang teguh adalah bahwa tidak ada satu anak
pun yang dianggap paling istimewa karena pada hakikatnya semua anak dan setiap
anak adalah istimewa tanpa terkecuali.
Ruang belajar ini memosisikan semua anak sebagai juara
sejati atas dasar penghargaan mendalam terhadap proses belajar yang telah
mereka lalui secara mandiri, sehingga tidak ada ruang untuk polarisasi karena
setiap individu adalah yang terbaik. Pola ini sejalan dengan konsepsi fitrah
kemanusiaan yang digagas oleh Al-Ghazali, di mana setiap anak terlahir sebagai
kertas putih yang suci dengan membawa potensi kebaikan bawaannya masing-masing.
Tugas pendidik dalam sudut pandang religius ini bukanlah melabeli atau
membanding-bandingkan pencapaian lahiriah anak, melainkan mengasah, menuntun,
dan menumbuhkan potensi fitrah tersebut agar berkembang secara seimbang.
Melalui sistem penilaian diri sendiri yang tidak menekan, Cerlang sukses
mempraktikkan pendidikan karakter yang menekankan kebersihan jiwa, kemandirian
spiritual, serta hilangnya rasa takut salah di hadapan sesama manusia.
Kemandirian yang dipupuk sejak dini terbukti membuahkan
hasil nyata ketika anak-anak secara formal meninggalkan bangku sekolah dasar.
Rasa kepemilikan yang mendalam serta kerinduan kolektif untuk terus merajut
kebersamaan mendorong para alumni membentuk sebuah ekosistem mandiri berupa
komunitas baca. Anak-anak yang kini telah melangkah ke jenjang sekolah menengah
tersebut mengorganisasi diri mereka sendiri secara independen. Mereka
merumuskan nama komunitas, menetapkan titik kumpul pergerakan, hingga merancang
konsep kegiatan literasi yang adaptif tanpa intervensi dominan dari orang
dewasa. Fenomena ini membuktikan bahwa benih kemandirian berpikir, keberanian
mengambil keputusan, dan kebiasaan berkolaborasi yang ditanamkan sejak dini
telah mengakar kuat sebagai bekal hidup yang jauh lebih berharga daripada
sekadar nilai ujian di atas kertas.
Perbincangan hangat yang mengalir bersama pendiri sekolah,
Kak Sri Wartati, membuka cakrawala baru yang jauh lebih menantang sekaligus
menggembirakan bagi kami. Kehadiran saya saat itu ditemani oleh Dian Aprilia
Manasae, sahabat baru saya asal Toraja sesama alumni Lemhannas yang sangat
bersemangat untuk mengunjungi sekolah ini. Sosok inspiratif Kak Sri yang
merupakan lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris Sanata Dharma dan peraih gelar
S2 dari Universitas Indonesia ini secara terbuka mengajak kami untuk bersama-sama
mempelopori berdirinya jenjang SMP di sekolah tersebut. Ajakan kolaborasi ini
terasa seperti pucuk dicinta ulam tiba, mengingat kami menangkap adanya
frekuensi visi yang sama untuk menghadirkan model pendidikan tingkat menengah
yang tetap memanusiakan manusia secara utuh dan menghindari jebakan pendidikan
semu.
Gagasan visioner Kak Sri dalam mengelola Cerlang rupanya
banyak diilhami oleh memoar legendaris Totto-chan: Gadis Kecil di Jendela.
Kisah nyata tentang keunikan cara pandang seorang anak bernama Totto-chan yang
sempat dikeluarkan dari sekolah konvensional namun kemudian menemukan rumah
jiwanya di Tomoe Gakuen menjadi ruh utama pergerakan di sini. Sekolah ini
mengadopsi keyakinan teguh Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi bahwa setiap anak
dilahirkan dengan watak baik dan keunikan potensinya masing-masing yang tidak
boleh diseragamkan oleh kurikulum yang kaku. Melalui pendekatan yang serupa
dengan Tomoe Gakuen, Cerlang memosisikan diri sebagai ruang aman bagi anak-anak
untuk mengeksplorasi bakat alami mereka, di mana guru berperan sebagai teman
pendamping dan fasilitator yang tulus mendengarkan, bukan sebagai penguasa
kelas.
Diskusi kami mengalir kian mendalam saat Kak Sri
merefleksikan cerpen legendaris Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis
untuk memotret realitas pendidikan agama kontemporer. Di era modern ini,
kesibukan hidup dan teralihnya perhatian masyarakat urban sering kali membuat
fungsi tradisional surau atau masjid sebagai pusat utama interaksi sosial dan
ruang belajar agama anak-anak menjadi sunyi. Fenomena menjamurnya rumah tahfiz
di luar lingkungan masjid, di satu sisi memang mengurangi keramaian anak
mengaji di surau konvensional, namun di sisi lain merupakan potensi besar yang
harus dirangkul. Terinspirasi dari analogi "robohnya surau" tersebut,
Cerlang melakukan ikhtiar kultural untuk membangun kembali peran-peran
spiritual yang sempat renggang itu melalui kolaborasi institusional yang apik.
Cerlang secara sadar membagi ruang evaluasi keagamaan secara
proporsional. Untuk nilai praktik formalitas beragama dan pendampingan iman,
sekolah sepenuhnya memercayakan dan mengambil nilainya dari tempat ibadah, guru
ngaji, rumah tahfiz, serta orang tua sebagai madrasah utama yang mewariskan
agama tersebut. Sementara itu, pihak sekolah berperan mengamati, mengawal, dan
menumbuhkan praktik-praktik baik keagamaan siswa dalam hubungannya dengan
sesama manusia dan kelestarian lingkungan. Revitalisasi fungsi ini sangat
selaras dengan cita-cita pembaharuan pendidikan Islam bentukan KH Ahmad Dahlan
yang menghendaki integrasi fungsional antara penguasaan ilmu pengetahuan,
kepedulian sosial, serta pemurnian nilai keagamaan yang dipraktikkan langsung
dalam aksi nyata.
Wawasan pendidikan yang diterapkan oleh Kak Sri Wartati memiliki fondasi empiris yang kokoh berkat pengalaman teacher exchange yang membuatnya berkesempatan mengajar di Australia. Pengalaman mengajar di luar negeri tersebut telah menempa perspektifnya dalam melihat alternatif-alternatif pengembangan karakter anak secara global dengan pendekatan yang adaptif dan inklusif. Rekam jejak internasional tersebut dikombinasikan dengan kearifan lokal, melahirkan konsep Cerlang yang hibrid, dinamis, serta sangat selaras dengan landasan hukum Pasal 3 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 maupun wacana penguatan nilai ketuhanan dalam revisi undang-undang. Pertemuan sore itu akhirnya ditutup dengan komitmen kuat untuk saling bahu-membahu, menyumbangkan pemikiran dan daya, demi mewujudkan kelanjutan estafet pendidikan tingkat menengah yang membebaskan, inklusif, dan penuh dengan napas kedamaian.
#RefleksiPendidikan
#PendidikanMembebaskan
#CatatanSriWahyuni
#TriPusatPendidikan
#FitrahAnak
#TottoChan
#RobohnyaSurauKami
#HumanismeIslam
#PendidikanInklusif
#PendidikanKarakter
#MerdekaBelajar
#SahabatLiterasi
#KomunitasBaca

0 Comments