Wikipedia

Hasil penelusuran

Cahaya dari Aula Garuda: Ikhtiar Mengembuskan "Napas Damai" di Tengah Pusaran Multikrisis Identitas Bangsa

Oleh: S Wahyu Nirmala 


Upaya menjaga komitmen kebangsaan di tengah pusaran multikrisis identitas yang melanda generasi saat ini merupakan sebuah tantangan sekaligus tanggung jawab besar bagi seluruh elemen bangsa. Kisah ini dimulai dari sebuah kekhilafan personal, di mana di tengah keresahan menanti jadwal sidang promosi doktoral yang menyita perhatian, saya sempat kurang mencermati pengumuman penting mengenai detail persiapan Seminar Kebangsaan yang berseliweran di WhatsApp Group (WAG) panitia. Keterbatasan atensi tersebut bahkan berlanjut pada urusan penampilan; saya melangkah ke Aula Garuda Kantor Gubernur Kalimantan Barat dengan outfit yang berbeda sendiri dan tidak seragam dengan rekan panitia lainnya.



Namun, momen salah kostum dan keterlambatan koordinasi itu justru melahirkan kehangatan yang luar biasa. Alih-alih menjadi kendala, rekan-rekan panitia dengan penuh semangat tetap memberikan ruang dan tenggat waktu khusus bagi saya untuk menyisipkan agenda penyerahan buku "Napas Damai Islam: Merawat Karakter di Bumi Multikultural". Ide mulia untuk menyerahkan buku ini sepenuhnya lahir dari inisiasi dan saran mendalam Bapak Riady Budiman selaku Korpus Pendikar UNTAN, yang merupakan lokus tempat penelitian disertasi saya bernaung hingga akhirnya berhasil lahir dan dibukukan menjadi karya literasi tersebut. Menariknya, karena posisi saya saat itu sudah berada di kota dan tidak sempat membawa fisik buku, Bapak Korpus jugalah yang dengan sigap membantu mengondisikan semuanya, mengingat beliau kebetulan menyimpan beberapa stok buku "Napas Damai Islam" untuk didistribusikan di lokasi acara.

Langkah menghadirkan buku ini di tengah forum bukan sekadar pelengkap acara, melainkan sebuah pertanggungjawaban moral dan intelektual saya, Sri Wahyuni, sebagai alumni Lemhannas RI Angkatan 2022. Memori kolektif saat mengikuti pemantapan intensif selama satu pekan di Hotel Mahkota beberapa tahun lalu seolah memanggil kembali komitmen kebangsaan yang pernah ditempa di sana. Semangat merawat persatuan itulah yang kemudian bergelora di dalam ruangan aula yang megah hari itu, dipenuhi oleh atmosfer intelektual dan spirit nasionalisme yang kuat untuk menyaksikan bertemunya gagasan-gagasan besar dari para tokoh penting demi masa depan NKRI. Seminar Kebangsaan yang mengangkat tema Nilai Kebangkitan Nasional sebagai Cahaya di Tengah Pusaran Multikrisis Identitas Kebangsaan ini pun menjadi panggung yang begitu khidmat.



Forum besar yang diinisiasi oleh Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL-LEMHANNAS) ini berhasil menghadirkan deretan figur luar biasa yang ahli di bidangnya masing-masing. Kehadiran para tokoh ini terbagi dalam peran penting, di mana Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H. selaku Gubernur Kalimantan Barat bersama Brigjend Pol (Purn) Rudy Tranggono, S.ST., M.K. yang menjabat sebagai Ketua DPD IKAL LEMHANNAS Kalimantan Barat bertindak sebagai Guest of Honor. Kehormatan besar juga dirasakan oleh seluruh peserta karena posisi Keynote Speaker diisi langsung oleh tokoh nasional, Prof. Purnomo Yusgiantoro, Ir., M.Sc., MA., PhD., IPU, yang saat ini mengemban amanah krusial sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi sekaligus Ketua Umum IKAL LEMHANNAS RI.



Jalannya diskusi kebangsaan yang interaktif dan dinamis ini dipandu dengan sangat apik dan hangat oleh Dr. Nurhadianto Pahmi, M.Pd. selaku moderator. Di bawah arahannya, seminar berhasil membedah pemikiran-pemikiran tajam dari tiga narasumber utama yang dihadirkan di atas panggung. Panggung akademis tersebut mempertemukan Andy Yentriyani, S.Sos., MA selaku Dewan Penasihat IKAL KALBAR sebagai narasumber pertama, Laksamana Muda TNI Sawa, S.E., M.M., CIQaR. yang merupakan Komandan KODAERAL XII/PTK sebagai narasumber kedua, serta Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si. selaku Rektor Universitas Tanjungpura sebagai narasumber ketiga yang melengkapi khazanah perspektif hukum dan akademis.


Perbincangan hangat di sela-sela riuhnya penyampaian gagasan tentang nasionalisme dan pertahanan negara tersebut akhirnya mengantarkan momen pembagian buah pikiran tertulis mengenai pentingnya kedamaian. Berkat kesiapan stok buku dari Korpus Pendikar tadi, buku "Napas Damai Islam" akhirnya dapat dibagikan secara langsung kepada para narasumber dan tokoh hebat yang hadir pada hari itu sebagai wujud kontribusi nyata dalam ruang literasi kebangsaan. Melalui buku yang berakar dari riset mendalam di Universitas Tanjungpura ini, tersimpan harapan besar untuk menanamkan kembali nilai-nilai moderasi, toleransi, dan penguatan karakter pada lingkungan pendidikan dan masyarakat luas.

Kesempatan berharga ini tentu tidak akan terwujud tanpa dukungan dan fasilitasi luar biasa dari para pengurus dan panitia. Rasa hormat dan terima kasih yang mendalam saya haturkan kepada Sekretaris IKAL LEMHANNAS Kalbar, Bapak Kolonel Laut (S) Tri Nugroho, B.S., yang telah memberikan ruang dan kemudahan luar biasa sehingga buku ini dapat sampai ke tangan para narasumber hebat. Apresiasi dan ucapan terima kasih yang sama besarnya juga saya dedikasikan untuk Ketua Panitia, Bapak Rahmat Putra Yudha, M.Ed., TESOL, serta Sekretaris Panitia, Ibu Dian Aprilia Manase, S.Pd., B.Ed, yang di tengah padatnya arus acara tetap memberikan ruang koordinasi yang begitu hangat, amanah, dan bersahabat, beserta seluruh jajaran panitia terlibat yang telah bekerja keras menyukseskan giat ini bilkhusus sesi ini.

Sentuhan nilai multikultural yang diulas di dalam buku ini menjadi modal utama agar masyarakat, khususnya di bumi Kalimantan Barat yang majemuk, tidak mudah terombang-ambing oleh krisis identitas global. Menitipkan pemikiran perdamaian ini kepada para pemangku kebijakan, jenderal militer, dan tokoh bangsa adalah langkah strategis agar narasi kebaikan dan keberagaman terus bergaung serta mendapatkan ruang yang luas di tingkat nasional. Hasil riset akademis tidak boleh hanya tersimpan di perpustakaan, melainkan harus bertransformasi menjadi embusan napas damai yang membumi dan menginspirasi banyak pihak.



Kendati demikian, sebagaimana sebuah cerita perjalanan, selalu ada ruang untuk catatan kecil dan cerita yang tertunda di balik kesuksesan sebuah acara. Pada seminar kemarin, Bapak Drs. H. Ria Norsan selaku Gubernur harus pamit meninggalkan lokasi acara terlebih dahulu karena agenda kedinasan yang sangat padat dan tidak bisa ditinggalkan. Di saat yang bersamaan, kotak kiriman fisik buku tambahan baru saja tiba di Aula Garuda sehingga momen penyerahan langsung ke tangan beliau belum sempat terlaksana. Walau menyisakan sedikit rasa mengganjal di hati, situasi ini justru dipandang sebagai sebuah seni dalam berikhtiar dan pembuka jalan untuk silaturahmi berikutnya. Semoga di waktu dekat, ada momen yang tepat untuk menyampaikan amanah literasi ini langsung kepada beliau, seraya terus membawa pulang "cahaya" Kebangkitan Nasional demi merawat persatuan di bumi multikultural ini.

#IKALLemhannas
#AlumniLemhannas2022
#LemhannasRI
#PendikarUNTAN
#CahayaDariAulaGaruda
#NapasDamaiIslam
#MerawatKarakter
#BumiMultikultural
#LiterasiKebangsaan

 

0 Comments

Follow Me On Instagram