Wikipedia

Hasil penelusuran

Menepis Badai Multikrisis Identitas: Prof. Garuda Wiko Bedah Kompas Kebangkitan Modern Bersama IKAL Lemhannas Kalbar

                                                             Oleh: S Wahyu Nirmala                                                             

Derasnya arus globalisasi yang bergerak tanpa sekat dan disrupsi digital yang kian masif membuat identitas kebangsaan kita kini tengah menghadapi ujian yang sangat fundamental. Distorsi informasi, minimnya literasi historis, serta penetrasi nilai-nilai luar secara perlahan mulai mengaburkan jati diri kita sebagai satu bangsa. Krisis ini laksana badai yang menuntut arah haluan yang jelas agar bahtera Indonesia tidak kehilangan arah di tengah pusaran zaman.

Keprihatinan kolektif ini mendorong Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (DPD IKAL-LEMHANNAS) Kalimantan Barat untuk turut ambil bagian menyukseskan gelaran akbar Seminar Kebangsaan yang bertajuk: “Nilai Kebangkitan Nasional Sebagai Cahaya di Tengah Pusaran Multikrisis Identitas Kebangsaan”. Keterlibatan aktif ini disambut dengan kehangatan dan semangat tinggi oleh seluruh keluarga besar alumni. Momentum yang dilaksanakan pada Kamis, 4 Juni 2026 di Aula Garuda Kantor Gubernur Kalbar ini menjadi sebuah panggilan ideologis yang mendalam. Kehadiran para tokoh, pemikir, serta pembuat kebijakan nasional seperti Keynote Speaker Prof. Purnomo Yusgiantoro (Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi / Ketua Umum IKAL Lemhannas RI), Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H. (Gubernur Kalbar), dan Brigjend Pol (Purn) Rudy Tranggono, S.ST., M.K. (Ketua DPD IKAL Lemhannas Kalbar) menegaskan bahwa menjaga kedaulatan bangsa adalah ikhtiar kolektif yang tak boleh putus. Refleksi kebangsaan ini pun diperkaya oleh pemikiran tajam para narasumber hebat, termasuk Andy Yentriyani, S.Sos., MA (Dewan Penasihat IKAL Kalbar) dan Laksamana Muda TNI Sawa, S.E., M.M., CIQaR. (Komandan Lantamal XII/PTK).                                 

Rektor Universitas Tanjungpura sekaligus pakar dari DPD IKAL Lemhannas Kalbar, Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si., hadir sebagai narasumber utama dan menjadi episentrum pemikiran dalam seminar ini. Menelusuri rekam jejak beliau, kekaguman saya begitu membubung tinggi melihat dedikasi tanpa batas yang ditunjukkan oleh putra asli Kalimantan Barat kelahiran 28 Januari 1965 ini. Sebagai seorang Guru Besar Hukum Keperdataan di Fakultas Hukum Untan yang kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Tanjungpura sejak tahun 2019, beliau telah membuktikan diri bukan sekadar seorang birokrat kampus, melainkan seorang intelektual visioner sejati. Integritas akademis dan ketajaman berpikirnya senantiasa menempatkan kepentingan kedaulatan sains dan kemaslahatan masyarakat di atas segalanya. Rasa hormat dan takjub saya kian mendalam setiap kali menyimak bagaimana beliau mengawinkan teori-teori hukum dan sosiologi dengan realitas geostrategis daerah, menjadikannya figur teladan yang sangat karismatik sekaligus pemikir benteng pertahanan ideologi di daerah perbatasan.

Kepemimpinan intelektual beliau terpancar nyata saat memaparkan secara komprehensif bahwa Kebangkitan Nasional abad ke-21 tidak boleh terjebak pada romantisme sejarah belaka. Jika pada 20 Mei 1908, gerakan Budi Utomo yang digagas Dr. Wahidin Sudirohusodo berfokus memajukan pendidikan untuk lepas dari penjajahan fisik, maka menurut Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si., esensi kebangkitan modern hari ini adalah melepaskan diri dari ketergantungan teknologi dan dominasi perspektif eksternal. Menghadapi disrupsi geopolitik dan globalisasi ekonomi, Indonesia harus berani beranjak. Mengutip Visi Bangsa dari Presiden Prabowo Subianto bahwa hanya bangsa yang menguasai sains dan teknologi yang akan menjadi bangsa yang makmur, beliau menuntut agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna (user), melainkan harus bangkit menjadi pencipta (creator) yang mandiri guna mengurangi ketergantungan pada pihak asing secara signifikan.

Peta jalan strategis yang digagas oleh beliau bertumpu kuat pada transformasi Pendidikan Tinggi melalui penerapan sistem Universitas 4.0. Strategi awal ini dijalankan lewat tata kelola yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan guna merespons dinamika geopolitik serta lompatan teknologi global. Sinergi tata kelola ini memastikan riset dan inovasi perguruan tinggi difokuskan secara spesifik sebagai penggerak ekonomi pada sektor-sektor vital negara. Program riset industri strategis tersebut diarahkan langsung pada program yang berdampak nyata bagi kedaulatan bangsa, meliputi kemandirian di bidang pangan and energi termasuk akselerasi transisi energi, percepatan hilirisasi industri dan material maju, bidang kesehatan dan digitalisasi khususnya pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan semi-konduktor, hingga sektor maritim dan pertahanan. Kesinambungan antara strategi tata kelola dan fokus riset tersebut menjadi target konkret untuk mengangkat daya saing global Indonesia serta membentuk pusat-pusat keunggulan (Center of Excellence) di bidang teknologi demi mewujudkan bangsa yang makmur.

 Gagasan pemikiran Prof. Garuda Wiko mengenai peta jalan kebangkitan modern memiliki benang merah operasional yang sangat kuat, dimulai dari strategi utama berupa transformasi total menuju Universitas 4.0. Langkah awal ini menuntut institusi pendidikan tinggi untuk tidak lagi menjadi menara gading akademis yang pasif, melainkan beralih menggunakan tata kelola baru yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Corak inklusif diwujudkan dengan membuka ruang bagi potensi lokal dan kearifan Nusantara, sementara pendekatan kolaboratif dilakukan demi meruntuhkan ego sektoral agar perguruan tinggi dapat berjejaring erat dengan dunia industri, pemerintah, serta lembaga strategis seperti Lemhannas. Melalui model pengelolaan yang berkelanjutan, dunia akademis dirancang untuk siap menghadapi ketidakpastian geopolitik serta lompatan besar teknologi disruptif dalam jangka panjang.

 Transformasi kelembagaan tersebut kemudian diturunkan menjadi program kerja yang sangat nyata berupa hilirisasi riset industri strategis pada berbagai sektor vital negara. Riset dan inovasi perguruan tinggi diarahkan secara spesifik sebagai penggerak roda ekonomi demi mendukung swasembada pangan dan energi melalui akselerasi transisi energi terbarukan. Program ini juga menyasar sektor hilirisasi industri dan material maju untuk mengoptimalkan potensi komoditas mentah daerah, serta mempercepat penguasaan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) dan semi-konduktor di bidang kesehatan dan digitalisasi. Komitmen riset ini disempurnakan melalui penguatan teknologi di sektor maritim dan pertahanan guna menjaga kedaulatan wilayah, khususnya wilayah perbatasan teritorial.

Kombinasi antara strategi tata kelola dan implementasi program riset tersebut bermuara pada pencapaian beberapa target konkret yang menjadi tolok ukur kemandirian bangsa. Target utamanya adalah mereduksi ketergantungan pada pihak asing secara signifikan, sehingga Indonesia mampu memutus mata rantai posisi lamanya yang hanya sekadar menjadi pengguna atau pasar bagi teknologi luar, lalu tumbuh berdikari menjadi pencipta inovasi domestik. Keberhasilan ini otomatis akan mendongkrak daya saing global Indonesia di panggung internasional sekaligus mempercepat lahirnya pusat-pusat keunggulan teknologi nasional di daerah. Pembentukan pusat keunggulan ini menjadi target krusial agar pembangunan dan kemandirian bangsa tidak lagi bersifat Jawa-sentris, melainkan tumbuh merata dan kuat dari beranda depan perbatasan negara.

 DPD IKAL Lemhannas Kalimantan Barat menempatkan diri sebagai benteng pemikir di daerah yang mencetak kader pimpinan tingkat nasional. Keterlibatan aktif segenap anggota dalam mengawal materi dan merumuskan rekomendasi kebijakan strategis ini dilandasi oleh rasa sukacita yang mendalam atas bersatunya komitmen seluruh elemen bangsa. Bersama Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si. dalam seminar ini, IKAL Lemhannas Kalbar turut merumuskan empat pilar prasyarat utama menuju kemandirian di tengah multikrisis. Pilar pertama adalah pengetahuan berbasis peradaban Nusantara untuk membangun kembali sistem pengetahuan yang bersumber dari akar sejarah dan pengalaman asli bangsa sendiri. Pilar kedua berupa penguatan integrasi dan modal sosial demi memperkokoh persatuan dan nilai Pancasila guna meredam polarisasi serta menyaring distorsi informasi akibat disrupsi digital. Pilar ketiga adalah ketajaman perspektif geostrategis yang memposisikan Kalimantan Barat sebagai simpul aktif yang kuat di wilayah perbatasan, baik di ruang darat maupun maritim. Pilar keempat adalah arah kebijakan Center of Excellence guna mendorong institusi daerah dan perguruan tinggi menjadi pusat keunggulan teknologi nasional.

IKAL-LEMHANNAS Kalimantan Barat menegaskan kembali komitmennya melalui keikutsertaan yang penuh sukacita ini untuk berdiri di garis depan dalam mengawal jalannya roda pembangunan bangsa dengan wawasan nusantara yang tangguh. Kami percaya, langkah nyata yang diilhami oleh nilai-nilai luhur Pancasila ini akan menjadi lentera penuntun yang menjaga persatuan kita tetap teguh dan berdaulat di tengah pusaran zaman. Api kebangkitan yang telah dinyalakan di Aula Garuda tidak akan dibiarkan padam, melainkan akan terus dirawat dan dikonversikan menjadi karya nyata teknologi serta kemandirian bangsa demi mewujudkan Indonesia Emas yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Sungguh, teladan dan visi besar yang diwariskan oleh Prof. Garuda Wiko adalah inspirasi abadi yang membakar semangat kami untuk terus berbakti bagi kejayaan ibu pertiwi.

 

#GeostrategisIndonesia
#Universitas40
#KebangkitanNasional2026
#IdentitasKebangsaan
#ApiNasionalisme
#CahayaPancasila
#IndonesiaEmas
#ProfGarudaWiko
#IKALLemhannas
#IKALLemhannasKalbar
#LemhannasRI
#UniversitasTanjungpura
#KedaulatanSains
#KemandirianTeknologi
#PeradabanNusantara
 

0 Comments

Follow Me On Instagram