Wikipedia

Hasil penelusuran

Di Balik Shaf yang Rapat: Belajar Rahasia Kejayaan Kampus dari Prof. Imam Suprayogo

 

Oleh: S. Wahyu Nirmala



 Arus modernisasi yang deras dan kompetisi akademik global yang kian ketat kerap menyisakan tanda tanya besar: apa sebenarnya rahasia sejati di balik kemajuan institusi pendidikan tinggi yang beradab dan berdaya saing tinggi? Jawaban atas pertanyaan mendasar ini mengalir begitu jernih melalui diskusi pribadi via pesan WhatsApp bersama guru dan dosen UNISMA saya yang mulia, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, M.Pd. Dari untaian pesan singkat sarat makna itulah, saya memetik pelajaran spiritual yang teramat berkesan dan membuka mata batin: kemajuan lahiriah sebuah peradaban selalu berakar kuat pada keteguhan fondasi spiritual, dengan shalat sebagai tiang utamanya.

Pekerjaan terberat dalam mengemban amanah kepemimpinan, sebagaimana dituturkan beliau, adalah mengurus manusia sekaligus menata diri sendiri. Banyak ikhtiar besar, tidak terkecuali pengelolaan dunia pendidikan, tersendat bukan karena kurangnya sarana, melainkan akibat kegagalan membina jiwa. Berbagai penyakit hati seperti dusta, khianat, tergesa-gesa, egois, sombong, iri, dengki, hasut, hingga bibit permusuhan menjadi penghambat utama keberhasilan usaha apa pun.

Al-Qur'an menawarkan terapi paling mendasar melalui Surah Al-'Ankabut ayat 45 bahwa shalat memiliki kekuatan dahsyat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ketika seorang hamba menghadapkan hatinya secara total ke arah kiblat, Allah SWT mencabut penyakit-penyakit dari dalam dadanya (QS. Al-A'raf: 43). Perjumpaan harian dengan Sang Khalik melalui ibadah inilah yang menumbuhkan kesabaran dan keikhlasan hakiki (QS. Al-Baqarah: 45-46). Usaha apa pun menjadi sangat mudah berhasil manakala setiap insan yang terlibat sehat jasmani dan rohaninya. Memimpin orang yang sehat jiwanya terasa begitu ringan, dan jalan menyehatkannya adalah melalui 'mi’raj' harian menemui Allah dalam shalat yang khusyuk.



Keteladanan nyata ini telah beliau jalankan puluhan tahun silam jauh sebelum mengemban amanah membesarkan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saat turut memimpin Universitas Muhammadiyah Malang selama dua dekade, beliau menanamkan prinsip hidup pantang membawa pulang apa pun dari kampus ke rumah; sebaliknya, beliau membawa apa yang dimiliki dari rumah demi kemajuan kampus. Prinsip keteladanan tanpa pamrih inilah yang melandasi tumbuh besarnya institusi tersebut hingga hari ini.

Jejak spiritualitas kepemimpinan ini kian mengakar kuat selama 16 tahun beliau menakhodai UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Beliau senantiasa membiasakan diri hadir di masjid 15 menit sebelum seruan azan berkumandang, berpegang pada keyakinan bahwa seluruh sivitas akademika akan selalu mencontoh langkah pimpinannya. Gerakan keteladanan ini melahirkan kesadaran alami tanpa paksaan, hingga dua masjid besar di kampus senantiasa dipenuhi dosen, karyawan, dan mahasiswa yang berduyun-duyun merapatkan shaf pada setiap waktu shalat.



Integritas spiritual beliau selaras sempurna dengan kebersihan finansial. Selama belasan tahun menjabat rektor, beliau tidak pernah membawa pulang sepeser pun tunjangan jabatannya, melainkan mengalihkan seluruhnya ke kas Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS). Ketulusan sang pemimpin menggerakkan keikhlasan kolektif: para dosen dan karyawan dengan sukarela menyisihkan 2,5 persen dari pendapatan mereka untuk ZIS. Para mahasiswa pun turut tergerak dengan memotong mandiri 30 persen dari beasiswa yang mereka terima demi membiayai fasilitas olahraga, apresiasi kesenian, dan kemaslahatan bersama.



Perjalanan spiritual kampus ini juga merekam jejak doa mustajab para ulama terdahulu. Pada masa ketika kampus belum semegah saat ini, seorang ulama dari Iran pernah bermalam di lingkungan kampus dan melangitkan doa tulus di keheningan malam agar kelak tempat tersebut bertransformasi menjadi pusat peradaban ilmu yang agung. Perpaduan doa para sesepuh, keteladanan pemimpin, kesucian niat, serta shalat berjamaah yang khusyuk telah terbukti nyata mengalirkan keberkahan yang tak bertepi.

Pelajaran berharga dari Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, M.Pd. ini menegaskan bahwa shalat bukan sekadar ritual ibadah, melainkan kunci pembuka seluruh pintu kemudahan, kedamaian, dan kesuksesan hakiki bagi setiap lembaga yang mendambakan kejayaan peradaban yang langgeng.

#DiBalikShafYangRapat

#RahasiaKejayaan

#ShalatBerjamaah

#ShalatKhusyuk

#ProfImamSuprayogo #UINMaulanaMalikIbrahimMalang

#UMMMalang

#UNISMA

#KeteladananSpiritual #PendidikanBersemaiKeberkahan

#UtamakanShalat

#TiangPeradaban

#GerakanCintaMasjid

#InspirasiKampusIslami

#KeberkahanLangit

#KeteladananPimpinan

#KarakterPeradaban

#PembersihJiwa

#KemakmuranMasjid

#ZISKampus

#KepemimpinanIslam


0 Comments

Follow Me On Instagram