Di Balik Shaf yang Rapat: Belajar Rahasia Kejayaan Kampus dari Prof. Imam Suprayogo
Oleh: S. Wahyu Nirmala
Arus modernisasi yang deras dan kompetisi akademik global yang kian ketat kerap menyisakan tanda tanya besar: apa sebenarnya rahasia sejati di balik kemajuan institusi pendidikan tinggi yang beradab dan berdaya saing tinggi? Jawaban atas pertanyaan mendasar ini mengalir begitu jernih melalui diskusi pribadi via pesan WhatsApp bersama guru dan dosen UNISMA saya yang mulia, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, M.Pd. Dari untaian pesan singkat sarat makna itulah, saya memetik pelajaran spiritual yang teramat berkesan dan membuka mata batin: kemajuan lahiriah sebuah peradaban selalu berakar kuat pada keteguhan fondasi spiritual, dengan shalat sebagai tiang utamanya.
Pekerjaan terberat dalam
mengemban amanah kepemimpinan, sebagaimana dituturkan beliau, adalah mengurus
manusia sekaligus menata diri sendiri. Banyak ikhtiar besar, tidak terkecuali
pengelolaan dunia pendidikan, tersendat bukan karena kurangnya sarana, melainkan
akibat kegagalan membina jiwa. Berbagai penyakit hati seperti dusta, khianat,
tergesa-gesa, egois, sombong, iri, dengki, hasut, hingga bibit permusuhan
menjadi penghambat utama keberhasilan usaha apa pun.
Al-Qur'an menawarkan terapi
paling mendasar melalui Surah Al-'Ankabut ayat 45 bahwa shalat memiliki
kekuatan dahsyat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ketika seorang hamba
menghadapkan hatinya secara total ke arah kiblat, Allah SWT mencabut penyakit-penyakit
dari dalam dadanya (QS. Al-A'raf: 43). Perjumpaan harian dengan Sang Khalik
melalui ibadah inilah yang menumbuhkan kesabaran dan keikhlasan hakiki (QS.
Al-Baqarah: 45-46). Usaha apa pun menjadi sangat mudah berhasil manakala setiap
insan yang terlibat sehat jasmani dan rohaninya. Memimpin orang yang sehat
jiwanya terasa begitu ringan, dan jalan menyehatkannya adalah melalui 'mi’raj'
harian menemui Allah dalam shalat yang khusyuk.
Keteladanan nyata ini telah
beliau jalankan puluhan tahun silam jauh sebelum mengemban amanah membesarkan
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saat turut memimpin Universitas Muhammadiyah
Malang selama dua dekade, beliau menanamkan prinsip hidup pantang membawa
pulang apa pun dari kampus ke rumah; sebaliknya, beliau membawa apa yang
dimiliki dari rumah demi kemajuan kampus. Prinsip keteladanan tanpa pamrih
inilah yang melandasi tumbuh besarnya institusi tersebut hingga hari ini.
Jejak spiritualitas kepemimpinan
ini kian mengakar kuat selama 16 tahun beliau menakhodai UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang. Beliau senantiasa membiasakan diri hadir di masjid 15 menit
sebelum seruan azan berkumandang, berpegang pada keyakinan bahwa seluruh
sivitas akademika akan selalu mencontoh langkah pimpinannya. Gerakan
keteladanan ini melahirkan kesadaran alami tanpa paksaan, hingga dua masjid
besar di kampus senantiasa dipenuhi dosen, karyawan, dan mahasiswa yang
berduyun-duyun merapatkan shaf pada setiap waktu shalat.
Integritas spiritual beliau
selaras sempurna dengan kebersihan finansial. Selama belasan tahun menjabat
rektor, beliau tidak pernah membawa pulang sepeser pun tunjangan jabatannya,
melainkan mengalihkan seluruhnya ke kas Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS). Ketulusan
sang pemimpin menggerakkan keikhlasan kolektif: para dosen dan karyawan dengan
sukarela menyisihkan 2,5 persen dari pendapatan mereka untuk ZIS. Para
mahasiswa pun turut tergerak dengan memotong mandiri 30 persen dari beasiswa
yang mereka terima demi membiayai fasilitas olahraga, apresiasi kesenian, dan
kemaslahatan bersama.
Perjalanan spiritual kampus ini
juga merekam jejak doa mustajab para ulama terdahulu. Pada masa ketika kampus
belum semegah saat ini, seorang ulama dari Iran pernah bermalam di lingkungan
kampus dan melangitkan doa tulus di keheningan malam agar kelak tempat tersebut
bertransformasi menjadi pusat peradaban ilmu yang agung. Perpaduan doa para
sesepuh, keteladanan pemimpin, kesucian niat, serta shalat berjamaah yang
khusyuk telah terbukti nyata mengalirkan keberkahan yang tak bertepi.
Pelajaran berharga dari Prof. Dr.
H. Imam Suprayogo, M.Pd. ini menegaskan bahwa shalat bukan sekadar ritual
ibadah, melainkan kunci pembuka seluruh pintu kemudahan, kedamaian, dan
kesuksesan hakiki bagi setiap lembaga yang mendambakan kejayaan peradaban yang
langgeng.
#DiBalikShafYangRapat
#RahasiaKejayaan
#ShalatBerjamaah
#ShalatKhusyuk
#ProfImamSuprayogo
#UINMaulanaMalikIbrahimMalang
#UMMMalang
#UNISMA
#KeteladananSpiritual
#PendidikanBersemaiKeberkahan
#UtamakanShalat
#TiangPeradaban
#GerakanCintaMasjid
#InspirasiKampusIslami
#KeberkahanLangit
#KeteladananPimpinan
#KarakterPeradaban
#PembersihJiwa
#KemakmuranMasjid
#ZISKampus
#KepemimpinanIslam

0 Comments