Merawat Rumah Bersama: Saat Kepemimpinan Tak Lagi Soal Siapa Menang dan Kalah
Oleh : S. Wahyu Nirmala
Dinamika pergerakan mahasiswa dan
panggung kepemimpinan kampus selalu diwarnai perputaran tampuk kekuasaan
sebagai sunnatullah yang wajar terjadi. Penulis mencermati, ada masa di mana
satu warna begitu mendominasi, dan ada saatnya warna lain dipercaya untuk
melanjutkan estafet amanah. Jika kita menyelami hakikat kepemimpinan secara
lebih dalam, penulis meyakini bahwa ia sejatinya bukanlah ajang hegemoni
tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan tentang seberapa
besar kemaslahatan yang berhasil dirajut bersama demi merawat rumah bersama
tempat kita tumbuh dan berproses.
Pelajaran berharga dapat kita
ambil dari panggung Siroh Nabawiyah melalui peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.
Kala itu, sebagian sahabat sempat merasa poin-poin kesepakatan diplomasi begitu
kompromistis dan terkesan mengalah. Namun, Allah SWT justru menyambut peristiwa
tersebut sebagai sebuah kemenangan yang nyata (Fathan Mubīnan). Hal ini
beririsan dengan konsep kepemimpinan modern seperti Transformational Leadership
yang dicetuskan oleh James MacGregor Burns, di mana seorang pemimpin sejati
mampu merangkul semua pihak demi visi moral yang lebih besar. Menurut penulis,
kemenangan sejati tidak selalu berbentuk dominasi mutlak, melainkan kesediaan
merangkul, keluwesan berdiplomasi, dan keberanian membuka ruang dialog. Ketika
seorang tokoh pergerakan mau bergandengan tangan dan bersikap luwes lintas
bendera, ia sama sekali tidak sedang terkalahkan. Justru pada titik itulah ia
meraih kemenangan moral tertinggi: menundukkan ego kelompok demi kepentingan
bersama.
Keteladanan tersebut makin
dipertegas saat peristiwa Fathul Makkah dan lahirnya Piagam Madinah. Penulis
melihat bagaimana Rasulullah SAW tidak membangun kepemimpinan di atas aksi
pembalasan atau pengukuhan kekuasaan satu kelompok semata, melainkan di atas
fondasi konsensus, keadilan, serta pengayoman bagi seluruh golongan tanpa
diskriminasi. Hal ini sejalan dengan pandangan Robert Greenleaf tentang Servant
Leadership (Kepemimpinan Pelayan), yang menegaskan bahwa ukuran utama
kepemimpinan adalah seberapa besar ia melayani dan memberdayakan seluruh elemen
masyarakat.
Hukum Islam senantiasa memegang
teguh prinsip tadarruj (proses bertahap) dalam perbaikan tata kelola dan
transformasi sosial. Kaidah fiqh mengingatkan bahwa apa yang belum bisa dicapai
secara sempurna, jangan pernah ditinggalkan seluruhnya (Mā lā yudraku kulluhu
lā yutraku kulluhu). Menurut penulis, setiap dinamika dan kompromi di masa lalu
adalah bagian dari proses panjang menuju kedewasaan berorganisasi. Upaya
menjaga keseimbangan di tengah perbedaan merupakan langkah nyata untuk mencegah
timbulnya keretakan yang lebih besar.
Pilar utama dari kepemimpinan
tercermin secara jelas dalam kaidah Fiqh Siyasah yang menegaskan bahwa setiap
kebijakan seorang pemimpin harus selalu berorientasi pada kemaslahatan umum
(Tasharruf al-imām ‘alā ar-ra‘iyyah manūṭun bil maṣlaḥah). Ukuran keberhasilan
kepemimpinan ormawa maupun institusi akademik tidak ditentukan oleh bendera apa
yang berkibar di panggung utama, melainkan oleh lahirnya tata kelola yang
bersih, transparan, adil, serta berintegritas.
Organisasi-organisasi pergerakan
seperti PMII, HMI, KAMMI, PII, GMNI, HIKMAHBUDHI, KMHDI, PMKRI, GMKI, serta
berbagai entitas mahasiswa lainnya, dalam pandangan penulis, adalah ragam warna
yang membentuk kekayaan sejarah bangsa. Semuanya adalah laboratorium
kepemimpinan yang melahirkan kader-kader terbaik dengan sumbangsih khas
masing-masing. Masa lalu memberikan kita pelajaran berharga untuk introspeksi,
sementara hari ini memberi kita kesempatan untuk saling merangkul dan berbenah.
Penulis meyakini, siapa pun yang
hari ini mendapat amanah memimpin, dan siapa pun yang mendampinginya dengan
keikhlasan serta keluwesan sikap, dialah pemenang sejati. Sebab pada akhirnya,
bendera tertinggi yang harus kita kibarkan bersama di atas tanah kampus
tercinta adalah bendera integritas, keadilan, dan pengabdian.
#KepemimpinanInklusif
#KedewasaanBerorganisasi
#FathanMubinan
#ServantLeadership
#TransformationalLeadership
#JiwaPergerakan
#SinergiPergerakan
#IntegritasKampus
#KepemimpinanBermaslahat
#DialektikaPergerakan
#MerangkulBukanMewarnai
#IslamRahmatanLilAlamin
#KeadilanDanPengabdian
#PemimpinMerangkul
#PMII
#HMI
#KAMMI
#PII
#GMNI
#HIKMAHBUDHI
#KMHDI
#PMKRI
#GMKI
#IAINPontianak
#SinergiKampus
#GerakanPerubahan
#IntegritasTanpaBatas

0 Comments