Scripta Manent dan Jejak Rasa: Catatan Rindu untuk Prof. Nur Syam
Oleh: S. Wahyu Nirmala
Hati ini masih saja berdebar. Getarannya begitu nyata, merayap lembut membawa gelombang kenangan yang enggan usai. Ada tangis haru dan tetesan air mata yang jatuh perlahan bukan karena sedih, melainkan karena keharuan yang mendalam atas betapa besarnya rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Menjalani proses akademik dan merengkuh keilmuan di Universitas Islam Malang (UNISMA) adalah salah satu nikmat paling luar biasa yang pernah saya rasakan dalam hidup ini.
Dalam ingatan yang menancap kuat, bayangan tatapan dan pertanyaan-pertanyaan kritis para Guru Besar selalu berhasil membuat dada ini bergemuruh. Khususnya saat momen ujian tertutup dulu meski tubuh ini berada di dalam ruangan ber-AC yang dingin menusuk, entah mengapa di hadapan Prof. Nur Syam, saya justru bergetar dan bercucuran keringat, bahkan sebesar biji jagung.
Padahal, secara reputasi keilmuan dan pengabdian, beliau adalah seorang Guru Besar di UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus Penasihat Ahli Menteri Agama. Namun saat berada di dekat beliau, yang saya rasakan bukanlah jarak atau sekat jabatan itu, melainkan hangatnya aura kasih sayang, perhatian, dan kesabaran seorang Ayah Ideologis. Ada perpaduan rasa yang sulit dijelaskan: kekaguman yang membuncah atas keilmuan beliau yang amat dalam, sekaligus rasa takzim dan "takut" yang luar biasa pada sosoknya.
Mungkin karena rasa yang terlalu dekat. Karena seringnya berdiskusi, bertukar pikiran lewat pesan WhatsApp, hingga mencurahkan isi hati dan gagasan seputar dunia literasi. Kedekatan itu menanamkan dorongan kuat dalam diri saya untuk selalu memberikan yang terbaik. Rasa enggan untuk mengecewakan itulah yang membuat saya selalu grogi setiap kali ditanya oleh beliau. Dan benar saja, getaran itu kembali hadir saat ujian promosi doktoral berlangsung.
Padahal, potensi dan perkiraan pertanyaan seputar poin penting itu sebenarnya sudah sempat saya petakan dan saya tandai rapi di lembaran disertasi. Namun ketika berhadapan langsung, aura dan energi keilmuan beliau yang sungguh luar biasa tetap saja membuat dada ini bergemuruh. Meski begitu, di balik ketegasan dan ketelitiannya, beliau tidak pernah berhenti mengobarkan semangat menulis dalam jiwa saya.
Satu pencerahan yang selalu beliau tancapkan dalam memori saya: "Verba volant, scripta manent. Yang dibicarakan akan hilang dipukul angin, namun yang dituliskan akan abadi selamanya. Saya menulis, maka saya ada Scribo, ergo sum. Bismillah, Yuni pasti bisa." Kalimat-kalimat itu bagaikan mantra penyemangat. Bahkan usai ujian, ketika saya mengirimkan pesan terima kasih atas seluruh arahan dan bimbingannya, pesan balasan beliau kembali menyuntikkan daya juang baru: "Wah, mantaaapppp banget. Selamat yaa. Awal masuk dunia akademis itu justru setelah doktor. Doktor adalah the start dan bukan the end. Bismillah."
Perjalanan ini makin terasa hangat karena dilalui bersama teman-teman seperjuangan 14 sahabat seangkatan, serta kebersamaan indah bersama Ibu Marsuni dan Mas Jose. Diskusi-diskusi ilmiah di dalam kelas bersama beliau adalah momen kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Kehangatan itu terasa kian sempurna saat momen perpisahan tiba. Ini adalah kepulangan kedua saya dari Malang menuju Pontianak sebelum ujian promosi sebuah rangkaian perjalanan yang menjadi bagian dari langkah ketiga saya menginjakkan kaki di Kota Malang. Dengan penuh kebahagiaan dan rasa kasih yang tulus, beliau sendiri datang menemui kami di bandara. Tidak sekadar mengantar, beliau juga membagikan oleh-oleh kecil serta buku karya tulisnya untuk kami nikmati dan baca sepanjang perjalanan udara.
Pelataran Bandara Juanda menjadi saksi momen luar biasa yang begitu membekas. Beliau mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, memanjatkan doa-doa tulus agar kami semua senantiasa dimudahkan dan dilancarkan dalam menyelesaikan studi doktoral, serta mendoakan agar kelak kami segera dipanggil bertamu ke Tanah Suci. Saat doa itu dipanjatkan, dada ini bergetar hebat. Saya pribadi merasakan getaran spiritual yang luar biasa hingga air mata menetes dan tangis terisak-isak, sambil menadahkan tangan mengaminkan setiap bait doa beliau di pelataran Bandara Juanda. Momen lambaian tangan dan untaian doa itu terpatri begitu dalam di sanubari kami.
Lebih dari sekadar pembimbing, beliau telah hadir sebagai sosok Ayah Ideologis bagi saya. Begitu dekatnya ikatan batin itu, hingga dalam alam mimpi dan ruang bawah sadar pun, sosoknya hadir membawa rasa bahagia dan tenang. Terima kasih Prof, untuk inspirasi menulis yang tak pernah padam. Terima kasih telah bersedia menerima dan memberi ruang bagi tulisan Yuni di platform website milik Prof. Terimaksih atas perkenan Prof. menjadi endorsman untuk Buku saya “Nafas Damai Islam: Merawat Karakter di Bumi Multikultural.” Terima kasih juga atas arahan, bimbingan, serta kasih sayang yang tulus dan kesabaran yang tak bertepi. Terima kasih telah selalu mendengarkan keluh kesah dan memberikan perhatian yang luar biasa.
Dari lubuk hati yang paling dalam, doa ini terus mengalir: Semoga Prof selalu diberikan kesehatan yang sempurna, keberkahan umur, serta selalu berada dalam lindungan dan kasih sayang Allah SWT. Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Sehat selalu ya, Prof... Terima kasih untuk semuanya.
#AyahIdeologis
#BandaraJuanda
#CatatanHati
#RefleksiDoktor
#UNISMAMalang
#ScriboErgoSum
#VerbaVolantScriptaManent
#InspirasiLiterasi
#JejakAkademis
#RasaSyukur
#DuniaMenulis

0 Comments