Stempel Cinta Kasih dan Keajaiban Tawakal: Catatan di Balik Mimbar Ujian Promosi Doktor
Oleh: S Wahyu Nirmala
Bandara Juanda di pagi hari menjadi saksi bisu kelegaan saya saat menanti pesawat yang dijadwalkan tiba lebih awal pada pukul sekitar 09.30 pagi. Sembari menunggu penerbangan Citilink yang akan membawa saya kembali dari Surabaya menuju Pontianak, saya menyempatkan diri untuk mengurai serpihan ingatan menjadi tulisan-tulisan reflektif dari kedalaman rasa saya tentang ujian promosi doktor yang baru saja terlaksana pada hari Senin, tanggal 13 Juli 2026. Momentum bersejarah itu telah sukses digelar di lantai 3 Gedung Ali Bin Abi Thalib, Universitas Islam Malang (UNISMA). Hari itu akan selalu tercatat dalam lembaran hidup saya sebagai waktu yang paling mendebarkan sekaligus mengharukan, di mana seluruh curahan energi dan air mata perjuangan melebur menjadi satu. Jadwal pelaksanaan ujian terbuka ini secara mendadak dimajukan satu bulan lebih cepat dari proyeksi awal, di tengah berbagai kendala administratif dan teknis yang sempat bermunculan di sana-sini. Pengumuman yang datang tiba-tiba itu sempat memacu adrenalin saya untuk menyiapkan segalanya dalam waktu yang amat karib.
Saya menyaksikan bagaimana takdir Tuhan bekerja melampaui nalar logis manusia di balik segenap ketegangan manusiawi itu. Ketika ego kedirian runtuh dan seluruh ikhtiar telah menemui batasnya, saya memilih untuk menggantungkan segalanya secara total kepada Allah SWT. Keyakinan di dalam dada membisikkan bahwa jika kita menyerahkan urusan sepenuhnya kepada Sang Pemilik Jagat, maka sebuah keajaiban pasti akan mewujud. Keajaiban itu nyata terjadi karena sebelumnya saya sempat diselimuti rasa pesimis tidak akan bisa menggunakan penguji eksternal pada ujian kali ini. Hal ini dikarenakan draf awal ujian saya sebenarnya diterbitkan untuk tanggal 13 Agustus. Secara hitungan matematis, mengatur waktu para tokoh penting dalam waktu sesingkat itu adalah sebuah kemustahilan. Tengah kepasrahan total kepada Allah, saya terus merawat prasangka baik (positive thinking) dan menanti keajaiban-keajaiban kecil hingga Allah menjawab doa itu dengan cara yang paling indah: menghadirkan Rektor IAIN Pontianak dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni IAIN Pontianak sebagai dewan penguji eksternal saya.
Kehadiran beliau berdua membawa getaran emosional tersendiri bagi saya. Sejak duduk di bangku Semester 1, saya kerap memandangi rektor saya seraya bermimpi mengenai kapan saya bisa membawa Rerktor IAIN ke kampus UNISMA bersama para pimpinan institut untuk sekadar bermain-main, merajut silaturahim, membangun keakraban, atau bahkan menandatangani kerja sama resmi (MoU). Saat itu, saya sadar diri bahwa saya bukan siapa-siapa yang memiliki otoritas untuk mengajak para petinggi itu bergerak. Qadarullah, melalui momentum ujian terbuka disertasi inilah, Allah memantaskan mimpi kecil itu terwujud secara terhormat. Beliau-beliau hadir bukan sekadar bertamu, melainkan menguji dan mengesahkan argumen akademik saya mengenai harmoni multikultural, membawa kegembiraan dan kesyukuran luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Keberhasilan ini tentu tidak berdiri di ruang hampa karena di balik keteguhan mental saya di podium, ada tangan-tangan dingin para guru, senior, dan sahabat yang tulus menyokong. Secara khusus, rasa hormat dan terima kasih mendalam saya haturkan kepada Prof. Dr. Ismail Ruslan, M.Si. Beliau bukan sekadar pembimbing eksternal, melainkan sosok mentor yang telah mengader saya dengan gaya kepemimpinan (leadership style) yang kuat dan tegas, menempa karakter saya menjadi akademisi yang tangguh. Penghargaan setinggi-tingginya juga saya persembahkan kepada Prof. Ibrahim, MA, Beliau memiliki nuansa pendekatan yang sangat khas dan berbeda sebuah sentuhan personal yang luar biasa dalam menguatkan mental saya. Di saat fokus saya terancam terpecah oleh beban teknis, beliau hadir memberikan jaminan penuh yang membebaskan saya dari kekhawatiran logistik. Beliau memastikan seluruh ongkos perjalanan pergi-pulang serta akomodasi penginapan saya aman. Dukungan konkret ini membuat saya mampu tetap semangat, termotivasi, dan fokus sepenuhnya pada ujian disertasi.
Nafas kebersamaan ini disempurnakan oleh kehadiran sahabat pergerakan saya, Ahmad Fauzi. Ia bergerak lincah di lapangan, melakukan hal yang sama dalam membantu mengondisikan akomodasi keberangkatan saya ke Malang terpenuhi tanpa kurang satu apa pun. Melalui ketulusannya, ia menguatkan hati saya dengan untaian kalimat penyejuk: "Kak, jangan pikirkan pulang ke Pontianak pakai apa, tapi yang penting Kakak sudah berangkat dengan sehat dan selamat untuk mengikuti ujian disertasi ini dengan tenang." Kepada seluruh warga pergerakan, para sahabat, dan senior yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, baik yang menyokong secara moril maupun non-materil sejak suksesnya ujian tertutup hingga promosi ini, Anda semua adalah pilar penyangga kesuksesan ini. Lompatan akademis ini juga tak lepas dari peran Prof. Dr. Zaenuddin, MA., MA., senior pergerakan lainnya yang tiada henti memberikan support, mendampingi saya dalam banyak hal, mulai dari forum Focus Group Discussion (FGD) hingga manuskrip ilmiah saya berhasil menembus Jurnal Terindeks Scopus Q1, sebuah pencapaian yang semula terasa awang-awang bagi saya.
Dukungan birokrasi yang humanis saya rasakan dari Kabiro IAIN Pontianak, yang secara konsisten tanpa henti membantu, memotivasi, dan membekali saya dengan tips serta trik spiritual tentang bagaimana bermunajat secara mendalam kepada Allah di saat-saat genting. Sementara itu, Pak Dr. Ahmad Jais., S. Ag., M. Ag secara khusus menyuntikkan bimbingan energi positif yang mendalam agar saya selalu menebar "Stempel Tuhan: Cinta Kasih Sayang (CKS)" kepada diri sendiri, sesama manusia, dan seluruh alam semesta. Filosofi CKS inilah yang pada akhir cerita menjiwai seluruh substansi pergerakan dan nafas hidup saya. Apresiasi mendalam juga mengalir kepada tim coaching tugas akhir/disertasi kami yang telah luar biasa membantu membimbing secara taktis hingga draf akademik ini layak terbit menjadi sebuah disertasi utuh. Penghormatan yang sama saya sampaikan kepada jajaran pimpinan fakultas: Dekan FUSHA (Fakultas Ushuluddin dan Adab), Dekan FDKI, beserta seluruh Wakil Dekan, Kabag, Kasubag, dan rekan kerja di tingkat fakultas maupun institut di IAIN Pontianak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Kerja sama tim dan doa tulus Anda semua adalah energi tak terlihat yang menguatkan saya.
Puncak dari segala rasa syukur ini, bait terima kasih yang paling sakral dan mendalam saya persembahkan untuk baiti jannati, pilar utama dalam hidup saya. Terima kasih tak terhingga kepada orang tua saya, Ayahanda Abdus Syukur dan mami Rapeah (Rahimullah) yang doanya selalu menjadi pelindung tak kasat mata, serta suami tercinta, Bustomi, yang dengan segala keikhlasan, ridho dan cintanya tiada henti mendampingi pasang surut perjuangan ini. Keberhasilan ini adalah persembahan cinta untuk kedua buah hati, permata jiwa saya, Staquilla Alishya Annemarie dan Mevlana Muhammad Avicena, yang selalu menjadi alasan terbesar bagi saya untuk terus melangkah maju tanpa mengenal lelah. Cinta dan kehangatan yang tak kalah besar juga saya tujukan kepada adik-adik saya tercinta, Muhammad Wahyudi, Fafi Rahmatillah, Alghifari serta Shachiko, yang selalu memberikan dukungan moral dan kebersamaan yang luar biasa di sepanjang perjalanan panjang ini.
Ujian telah usai dan podium kebahagiaan telah dilewati, namun perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai. Dengan membawa ilmu pendidikan Islam multikultural ini, saya berkomitmen untuk tetap rendah hati (down to earth), menjaga stempel Cinta Kasih Sayang di dalam dada, serta mendedikasikannya untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan almamater tercinta. Terima kasih atas segala nikmat ini. Alhamdulillah, barakallah.

0 Comments