Dag…Dig…Dug….Dor….Kuliah Genalogi Perdana Penuh Kesan* Sri Wahyuni*
Baru
kali ini saya merasakan dag dig dug dor mengikuti mata kuliah yang menurut saya
luar biasa.Saat saya berada dari zona aman saya sebagai seorang
manusia yang membaca sedikit sejarah
tentang Islam. Selama ini saya baru
sadar bahwa sesungguhnya tidak semua sejarah atau fakta-fakta yang saya lihat
dan saya temukan itu adalah benar dari perspektif bacaan atau temuan saya. Namun paling tidak hal itu mengungkapkan bahwa apa yang saya lihat atau temukan
itu belum tentu benar dari sudut pandang
tertentu.
Mata
kuliah ini seolah membuka mata batin saya untuk lebih hati-hati lagi dalam
membaca sejarah. Tidak semua sejarah itu
akan bisa di eksplore secara menyeluruh kebenarannya. Sisi-sisi tertentu yang
terungakap namun tak sedikit pula sisi lainnya yang tersembunyikan. Sebagai seorang pembaca saya dan bagian dari pelaku sejarah lainnya merasakan
bahwa selama ini ternyata yang dibaca itu mengundang banyak pertanyaan …..
benarkah sumber yang kubaca selama ini??.... lebih lanjut kayak berevaluasi diri . Sayapun mestinya
harus semakin lebih hati-hati lagi dalam membaca sejarah-sejarah.
Fakta
sejarah yang dibaca tentu berbeda juga dari sudut pandang orang-orang yang
membacanya karena mempunyai perbedaan dari sisi latar belakang keilmuan, lingkungan, bacaan, persepsi dan semua latar
belakang itu sesungguhnya akan menimbulkan gejala-gejolak berbeda pula pada
setiap pembacanya.
Menarik
menurut saya bahwa jika sejarah itu dituliskan oleh orang yang notabene bukan
berasal dari agama tertentu atau kelompok tertentu tapi melihat sejarah itu dengan
sangat gamblangnya nah saya tidak tahu unsur apa di balik ini… Kenapa dia
begitu Netral Kenapa dia begitu begitu proporsionalnya menuliskan sejarah, walaupun ia dia bukan bukan bagian dari dari fakta
sejarah itu. Contohnya seperti Karen Amstrong yang menulis tentang Sejarah Tuhan, Muhammad sang Nabi dan
lain-lain. Begitu juga Annemarie schimel yang menuliskan tentang Rabiah Al
Adawiah, Muhammad Rasulullah, Jalaluddin Rumi, dll sungguh luar biasa……….saya
bilangnya super amazing….
Mata
kuliah ini juga menyadari bahwa mayoritas fakta sejarah yang ditulis oleh
seorang laki-laki itu tentu akan berimbas pada segala hal yang hanya bersifat
kelaki-lakian saja. Saya mikirnya dari situ
bahwa sesungguhnya jika kebijakan-kebijakan ataupun suatu hukum itu jika
hanya bersumber pada laki-laki. Maka apakah mungkin akan memiliki implikasi pada kebijakan yang dibuat.
Misalkan ketika hukum yang berhubungan
dengan perempuan dibuat oleh seorang laki-laki belum tentu semua
kebutuhan-kebutuhan, keinginan bahkan rasa perempuan itu bisa sepenuhnya terungkap. Hal itu dikarenakan yang bisa merasakan
hanyalah perempuan itu sendiri. Sehingga perempuan harus menjadi bagian dari
pembuat kebijakan atas apa yang diperlukan, dibutuhkan, bahkan dirasakan.
Mata
kuliah pertemuan pertama ini juga membuka mata saya lebar-lebar bahwa kebenaran
itu tidak bisa diklaim (Claim of Truth) oleh suatu kelompok manapun.
* Mahasiswa Program Doktoral UNISMA
**
Refleksi Mata Kuliah Genealogi Pendidikan Islam Multikultural (Pertemuan
perdana Sabtu 4 November 2023 Pukul 11.00)


0 Comments