Kemelekatan Hidup[1] Oleh : Sri Wahyuni[2]
Materi
ke-3 Geneologi kali ini membahas tentang Pemikiran Islam Masa Rasulullah
sebelum pra Islam. Salah satu yang ingin penulis paparkan adakah tentang Wahyu
dan Akal. Meskipun seringkali dianggap berlawanan, wahyu dan akal dapat berada
dalam harmoni yang saling melengkapi. Wahyu dapat memberikan kerangka moral dan
spiritual, sementara akal membantu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini
dalam kehidupan sehari-hari. Akal dapat memberikan konteks dan interpretasi
rasional terhadap wahyu, menciptakan pemahaman yang lebih kaya dan mendalam.
Dalam
konklusi bagian dari paragraph akal dan
wahyu ini menekankan pentingnya memahami dan menghargai titik temu antara wahyu
dan akal. Keduanya bukanlah konsep yang saling eksklusif, tetapi sebaliknya,
mereka dapat membentuk dasar pemahaman yang holistik dan terpadu tentang
kebenaran. Dengan menyelaraskan wahyu dan akal, manusia dapat mencapai
keselarasan dalam pencarian makna hidup dan pencerahan spiritual.
Lebih
lanjut kuliah pertemuan ke tiga ini membahas tentang kelahiran islam dalam
konteks budaya dan tradisi Arab, politik internal, konsidi social yang meliputi
family unit, tribalism, (gender Inedaquancy) patrialkal, perbudakan, poligami.
Konteks perekonomian dan kondisi geografis serta budaya dan pengaruh luar.
Penulis ingin focus pada kondisi social patrialkal bangsa arab yang lebih
mengedepankan budaya patriarki atau patrilineal.
Fokus
penulis kali ini mengingatkan pada
seorang wanita Jepang Sachiko Murata dalam buku merahnya yang pernah penulis
baca saat di bangku kuliah tahun 2000 dulu. Buku dengan judul The Tao of Islam karangan Sachiko Murata ini membahas tentang relasi
gender antara laki-laki dan perempuan. Murata menggunakan pendekatan kosmologi
dalam menggambarkan manusia dan alam yang mempunyai kemiripan dalam hal penciptaan, struktur, asal usul, karakter,
relasi, maupun fungsi. Pendekatan kosmologi Islam yang digunakannya memiliki
kesamaan dengan konsep kosmologi Cina yaitu Yang dan Yin yang melukiskan relasi
alam semesta. Yang dan Yin adalah dua karakter yang berbeda dan saling
berlawanan, namun kedua karakter tersebut mampu merangkul antara yang satu
dengan lainnya sehingga terjalin keserasian dan keselaran sebagaimana
bergantinya malam dan siang, musim kemarau ke musim gugur kemudian musim hujan
dan musim semi.
Konsep
yang dan yin diatas menunjukan juga betapa pria dan wanita mempunyai
kemelekatan luar biasa. Murata memaparkan bahwa hak dan kewajiban pria atas
wanita dalam perkawinan bukan untuk melahirkan hubungan dominasi terahadap
pasangan. Pria dan wanita berbeda bukan
dari sisi drajat untuk menguasai, namun adanya saling mencintai. Begitupun
wanita diciptakan memikat bukan untuk dijadikan budak nafsu pria namun supaya
pria mencintai wanita dan begitupun sebaliknya.
Murata
juga memaparkan bahwa kesadaran gender dari buku the Tao of Islam tersebut
adalah karakter pria dan perempuan merupakan faktor bawaan yang Allah berikan
sebagaimana langit dan bumi. Adanya perbedaan peran karena perbedaan
masing-masing karakter dan keutamaan yang dimiliki keduanya. Selanjutnya
penetapan hak dan kewajiban keduanya adalah menunjukkan tanggung
jawab pada masing-masing pasangannya.
Dalam
pandangan Islam Sifat maskulin dan feminim adalah sifat yang sama-sama Allah
ilhamkan pada pria maupun wanita. Allah memberikan pengaruh terhadap alam dan
manusia. Salah satu pengaruh yang diberikan adalah manifestasi sifat-sifat
Allah yang terdiri dari dua sifat berlawanan dalam kesatuan Tuhan. Berdasarkan
teori Yin dan Yang Sachiko Murata memaknai sifat-sifat yang Allah miliki
berdasarkan karakteristiknya menjadi dua bagian yaitu keagungan (maskulin) dan
keindahan (feminim). Nama–nama agung Allah misalnya keagungan (jalal), keadilan
(‘adl), dendam(intiqam), ketakterkalahkan (jabarut), ketakterjangakauan
(Izzah), kesucian (qudus), kebesaran (kibriya’). Sedangkan nama-nama keindahan
(jamal), kelembutan(luthf), rahmat (rahmah), ampun(maghirah), maaf (‘awf),
cinta (mahabah).
Penulis
ingin katakan bahwa sesungguhnya kesadaran gender yang mengacu pada ajaran
islam ini terakndung ayat-ayat qauliyah maupun qauniyah yaitu alam
semesta. Berdasarkan konsep kosmologi
dan teologi islam yang di kembangkan oleh Sachiko menunjukkan bahwa karakteristik
dan peran gender adalah sesuatu yang melekat alami sesuai jenis kelaminnya.
Karenanya sifat feminim dan maskulin yang ada pada diri pria dan wanita bukan
untuk dirubah sesuai kehendak namun harius dikondisikan untuk dapat
memaksimalkan yang positif dan meminimalisir pada karakter keduanya.


0 Comments