Wikipedia

Hasil penelusuran

Kemelekatan Hidup[1] Oleh : Sri Wahyuni[2]

 

 

Materi ke-3 Geneologi kali ini membahas tentang Pemikiran Islam Masa Rasulullah sebelum pra Islam. Salah satu yang ingin penulis paparkan adakah tentang Wahyu dan Akal. Meskipun seringkali dianggap berlawanan, wahyu dan akal dapat berada dalam harmoni yang saling melengkapi. Wahyu dapat memberikan kerangka moral dan spiritual, sementara akal membantu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari. Akal dapat memberikan konteks dan interpretasi rasional terhadap wahyu, menciptakan pemahaman yang lebih kaya dan mendalam.

Dalam konklusi bagian dari  paragraph akal dan wahyu ini menekankan pentingnya memahami dan menghargai titik temu antara wahyu dan akal. Keduanya bukanlah konsep yang saling eksklusif, tetapi sebaliknya, mereka dapat membentuk dasar pemahaman yang holistik dan terpadu tentang kebenaran. Dengan menyelaraskan wahyu dan akal, manusia dapat mencapai keselarasan dalam pencarian makna hidup dan pencerahan spiritual.

Lebih lanjut kuliah pertemuan ke tiga ini membahas tentang kelahiran islam dalam konteks budaya dan tradisi Arab, politik internal, konsidi social yang meliputi family unit, tribalism, (gender Inedaquancy) patrialkal, perbudakan, poligami. Konteks perekonomian dan kondisi geografis serta budaya dan pengaruh luar. Penulis ingin focus pada kondisi social patrialkal bangsa arab yang lebih mengedepankan budaya patriarki atau patrilineal.

Fokus penulis kali ini  mengingatkan pada seorang wanita Jepang Sachiko Murata dalam buku merahnya yang pernah penulis baca saat di bangku kuliah tahun 2000 dulu. Buku  dengan judul The Tao of Islam karangan  Sachiko Murata ini membahas tentang relasi gender antara laki-laki dan perempuan. Murata menggunakan pendekatan kosmologi dalam menggambarkan manusia dan alam yang mempunyai kemiripan dalam hal  penciptaan, struktur, asal usul, karakter, relasi, maupun fungsi. Pendekatan kosmologi Islam yang digunakannya memiliki kesamaan dengan konsep kosmologi Cina yaitu Yang dan Yin yang melukiskan relasi alam semesta. Yang dan Yin adalah dua karakter yang berbeda dan saling berlawanan, namun kedua karakter tersebut mampu merangkul antara yang satu dengan lainnya sehingga terjalin keserasian dan keselaran sebagaimana bergantinya malam dan siang, musim kemarau ke musim gugur kemudian musim hujan dan musim semi.

Konsep yang dan yin diatas menunjukan juga betapa pria dan wanita mempunyai kemelekatan luar biasa. Murata memaparkan bahwa hak dan kewajiban pria atas wanita dalam perkawinan bukan untuk melahirkan hubungan dominasi terahadap pasangan. Pria  dan wanita berbeda bukan dari sisi drajat untuk menguasai, namun adanya saling mencintai. Begitupun wanita diciptakan memikat bukan untuk dijadikan budak nafsu pria namun supaya pria mencintai wanita dan begitupun sebaliknya.

Murata juga memaparkan bahwa kesadaran gender dari buku the Tao of Islam tersebut adalah karakter pria dan perempuan merupakan faktor bawaan yang Allah berikan sebagaimana langit dan bumi. Adanya perbedaan peran karena perbedaan masing-masing karakter dan keutamaan yang dimiliki keduanya. Selanjutnya penetapan hak dan kewajiban keduanya adalah menunjukkan  tanggung  jawab pada masing-masing pasangannya.

Dalam pandangan Islam Sifat maskulin dan feminim adalah sifat yang sama-sama Allah ilhamkan pada pria maupun wanita. Allah memberikan pengaruh terhadap alam dan manusia. Salah satu pengaruh yang diberikan adalah manifestasi sifat-sifat Allah yang terdiri dari dua sifat berlawanan dalam kesatuan Tuhan. Berdasarkan teori Yin dan Yang Sachiko Murata memaknai sifat-sifat yang Allah miliki berdasarkan karakteristiknya menjadi dua bagian yaitu keagungan (maskulin) dan keindahan (feminim). Nama–nama agung Allah misalnya keagungan (jalal), keadilan (‘adl), dendam(intiqam), ketakterkalahkan (jabarut), ketakterjangakauan (Izzah), kesucian (qudus), kebesaran (kibriya’). Sedangkan nama-nama keindahan (jamal), kelembutan(luthf), rahmat (rahmah), ampun(maghirah), maaf (‘awf), cinta (mahabah).

Penulis ingin katakan bahwa sesungguhnya kesadaran gender yang mengacu pada ajaran islam ini terakndung ayat-ayat qauliyah maupun qauniyah yaitu alam semesta.  Berdasarkan konsep kosmologi dan teologi islam yang di kembangkan oleh Sachiko menunjukkan bahwa karakteristik dan peran gender adalah sesuatu yang melekat alami sesuai jenis kelaminnya. Karenanya sifat feminim dan maskulin yang ada pada diri pria dan wanita bukan untuk dirubah sesuai kehendak namun harius dikondisikan untuk dapat memaksimalkan yang positif dan meminimalisir pada karakter keduanya.

0 Comments

Follow Me On Instagram