Menjemput Berkah di Halaman Rektorat: Catatan Syukur dan Kedisiplinan Pagi
By. S. Wahyu Nirmala
Setelah menunaikan kewajiban sujud di keheningan subuh dan menjemput energi spiritual sebagai pembuka hari, langkah saya berlanjut pada penguatan fisik yang dimulai tepat pukul lima pagi. Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kesehatan, saya mengawalinya dengan meminum satu liter air putih untuk menghidrasi tubuh yang baru saja terbangun. Ritual ini kemudian mencapai puncaknya pada pukul enam pagi saat saya menikmati segelas "ramuan ajaib" perpaduan cuka apel, madu, lemon, dan chia seeds yang terasa menyegarkan sekaligus menjadi benteng pelindung bagi kebugaran tubuh sebelum menghadapi rutinitas yang padat.
Persiapan pagi ini terasa begitu hangat karena dilakukan dengan penuh perencanaan, termasuk mengemas keranjang bekal yang berisi jagung rebus, 2 potong ayam goreng minyak kelapa, serta buah-buahan seperti salak, jeruk, dan potongan nanas. Menu makan siang yang kaya nutrisi ini bukan hanya soal mengenyangkan perut, melainkan bagian dari komitmen panjang untuk menjaga amanah raga agar tetap produktif. Dengan bekal yang sudah siap di tangan, saya merasa lebih tenang dan siap lahir batin untuk memulai perjalanan menuju kampus IAIN Pontianak.
Momen kebersamaan dengan suami menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan pagi ini, di mana kendaraan kami berubah menjadi ruang makan kecil yang penuh kehangatan. Sambil menembus jalanan pagi, kami menikmati sarapan empat butir telur rebus bersama dan beberapa potong buah segar, sebuah kesederhanaan yang menguatkan ikatan sebelum kami berfokus pada tugas profesional masing-masing. Tepat pukul tujuh, sesampainya di gerbang kampus, saya berpamitan dengan penuh takzim, lalu kami pun berpisah untuk mulai mengabdi di tempat kerja masing-masing dengan doa agar hari ini penuh keberkahan.
Ada rasa syukur yang mendalam saat saya melangkah masuk ke kantor dan meletakkan ransel serta keranjang bekal di lantai tiga dengan waktu yang sangat longgar. Kedatangan yang lebih awal dari pekan sebelumnya memberikan saya ruang untuk bernapas lebih dalam dan mempersiapkan diri mengikuti apel pagi di halaman Gedung Rektorat. Hari ini, suasana terasa begitu dinamis karena rekan-rekan dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) bertugas sebagai pelaksana apel dengan penuh tanggung jawab.
Kabag Tata Usaha FDKI Ibu Hj. Suyati, S. Ag , selaku pembina apel, memberikan amanat yang sangat menyentuh mengenai pencapaian luar biasa Prodi PIAUD yang berhasil meraih akreditasi "Unggul". Beliau mengingatkan bahwa prestasi ini adalah cerminan dari akumulasi kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan secara konsisten. Rasa syukur atas capaian tersebut harus diwujudkan dalam bentuk peningkatan budaya kerja yang nyata, mengingat masyarakat menaruh harapan besar pada pundak para pegawai IAIN Pontianak sebagai role model di lingkungan pendidikan.
Dalam arahannya yang lugas, beliau menekankan poin-poin utama yang harus menjadi pegangan setiap pegawai, mulai dari ketepatan waktu yang mencerminkan kedisiplinan diri, hingga tanggung jawab penuh terhadap pekerjaan. Beliau juga menggarisbawahi pentingnya menjaga etika berperilaku serta fokus pada tupoksi masing-masing tanpa mencampuri urusan yang bukan menjadi wewenangnya. Kesadaran akan tanggung jawab moral di hadapan masyarakat dan komitmen menjaga keharmonisan tim menjadip kunci agar kualitas institusi tetap berada di level tertinggi.
Satu poin krusial yang beliau sampaikan di akhir amanatnya adalah bahwa pimpinan harus menjadi teladan nyata bagi bawahannya. Seorang pimpinan tidak hanya memberikan instruksi melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan yang konsisten; karena keteladanan adalah metode kepemimpinan yang paling efektif untuk menggerakkan kedisiplinan anggota. Jika pimpinan menunjukkan integritas dan dedikasi, maka aura positif tersebut akan mengalir dan diikuti secara alami oleh seluruh jajaran di bawahnya.
Nilai-nilai kedisiplinan dan keteladanan ini sejatinya berakar kuat dalam ajaran spiritual kita, seperti yang termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-Ashr tentang urgensi waktu agar manusia tidak merugi. Begitu pula dalam Sirah Nabawiyah, di mana Rasulullah SAW adalah sebaik-baiknya contoh keteladanan (uswatun hasanah) yang selalu melakukan terlebih dahulu apa yang beliau perintahkan kepada para sahabat. Bekerja dengan disiplin dan menjaga kesehatan dengan pola makan yang baik adalah bentuk nyata dari pengamalan nilai-nilai kenabian dalam konteks pengabdian kita sebagai abdi negara.
Menutup pagi yang cerah ini, saya menyadari bahwa harmoni antara kesehatan tubuh dan kedisiplinan kerja adalah kunci kebahagiaan seorang mukmin. Dari segelas air di waktu fajar hingga integritas dalam menjalankan tugas kantor sesuai amanah pembina apel, semuanya adalah satu tarikan napas pengabdian. Semoga langkah kaki kita di IAIN Pontianak selalu dibimbing oleh rasa syukur dan komitmen untuk terus memberikan kontribusi terbaik demi menjaga marwah akreditasi "Unggul" yang telah kita raih bersama.
#BudayaKerjaUnggul
#DisiplinAdalahIbadah
#IntegritasTanpaBatas
#KeteladananPemimpin
#IAINPontianakUnggul

0 Comments