Lingkungan Sosial dalam Pendidikan [1]
Oleh: Sri Wahyuni[2]
Ki Hajar Dewantara menjelaskan arti pendidikan adalah
proses memanusia-kan manusia, pengangkatan manusia ke taraf insani. Di
dalamnya, pembelajaran merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik
kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Hal ini senada dengan apa yang dituliskan oleh Iman Setyawan
dalam harian kompas, bahwa tujuan pendidikan adalah “aktualisasi diri yang
merupakan pemanfaatan bakat, kapasitas, dan potensi sehingga dapat memenuhi
diri dan melakukan yang terbaik.” Orang yang mengaktulisasikan diri
terlebih dahulu harus merasa merdeka. Langeveld berbeda lagi dalam mengartikan
pendidikan menurutnya Pendidikan
adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada peserta
didik tertuju kepada pendewasaan anak atau peserta didik itu sendiri, atau
lebih tepat membantu peserta didik agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya
sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan oleh
orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari, dan sebagainya)
dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa.
Tiga pendapat diatas mengartikan pendidikan dengan
pemahaman yang berbeda. Ki Hajar
Dewantara lebih melihat bahwa pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia
atau pengangkatan manusia ke taraf insani. Penulis melihat ada hal yang
dilakukan berulang yakni kata memanusiakan manusia disini bisa dilihat bahwa
kata itu mengandung makna pranata social yang perlu di bentuk kembali.
Selanjutnya Imam Setyawan aktualisasi diri yang juga mengacu pada sisi social
seseorang sebagai peserta didik. Begitu juga dengan pendapat Lengeveld mengartikan
pendidikan lebih pada tujuan yakni mendewasakan peserta didik. Selanjutnya
Lengeveld menurut penulis secara tidak langsung menyebutkan bahwa hal-hal fisik
seperti buku, sekolah dan lain-lain tidak berdiri sendiri melainkan ada campur
tangan manusia dewasa yang mengarahkannya. Artinya hal ini kembali lagi pada
sisi social yang dimiliki oleh setiap manusia dewasa yang berada disekitar
lingkungan peserta didik. Tiga pemahaman
yang berbeda diatas penulis rangkum menjadi satu tujuan yakni membentuk
manusia paripurna atau manusia seutuhnya atau bisa dikatakan insan kamil.
Insan kamil, manusia paripurna adalah kata yang mudah diucapkan namun sulit
untuk dilakukan dan dibuktikan. Hal itu tidak lain karena banyak hal yang
mempengaruhi kata itu. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat luas (Tripusat Pendidikan). Secara umum fungsi lingkungan
pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai
lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia,
agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal seperti yang disebutkan oleh tiga pendapat diatas.
Meskipun lingkungan sosial tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun
merupakan faktor yang sangat menentukan yang berpengaruh besar terhadap
anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam satu lingkungan yang disadari
atau tidak pasti akan mempengaruhi perkembangannya. Lingkungan Sosial yang
memadai dan humanis akan memudahkan peserta didik untuk lebih dapat menemukan
siapa dirinya yang sesungguhnya. Karena lingkungan social yang “keras” akan
membuat peserta didik tidak mengenal siapa dirinya karena peserta didik tidak
mendapat pengakuan dalam lingkungan social tersebut. Sebaliknya lingkungan yang
humanis akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih rileks dalam menghadapi
kehidupannya. Karena menurut penulis dia lebih memandang bahwa orang-orang
disekitarnya bukanlah orang yang patut untuk disaingi atau dijadikan lawan,
namun sebaliknya dia akan menganggap orang-orang disekitarnya adalah sebagai
saudara atau sahabat untuk dijadikan mitranya dalam menghadapi tantangan zaman
yang lebih manantang.
NB: Kutipan
dari berbagai sumber di www.google.com


0 Comments