Tingkatkan Karakter Bangsa dengan Sekolah Internasional? [i]
Sekolah adalah
sebuah lembaga yang
dirancang untuk pengajaran siswa (atau
"murid") di bawah pengawasan guru. Lembaga pendidikan yang dirancang tersebut secara nyata
menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada masalah dengan kata pengajaran siswa.
Namun menjadi masalah bila siswa yang dimaksud adalah siswa “tertentu” saja.
Lantas pertanyaan lanjutnya bagaimana dengan siswa yang tidak mampu? Apa kata
sekolah masih bisa berlaku? Sejak merebaknya sekolah International terhitung sejak diresmikan dan digalakkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional tahun 2006. Yang nyata terbaca sampai saat ini wacana
sekolah internasional melengkapi sejumlah kontroversi dunia pendidikan negeri
ini.
Kembali
ke pertanyaan semula, apakah lebih penting menyelenggarakan sebuah sekolah
unggul yang bertaraf international namun hanya segelintir orang yang bisa
menikmatinya? Ataukah menciptakan sekolah biasa
yang semua rakyat Indonesia dapat mengaakses pendidikan tersebut dengan
biaya terjangkau dan mudah di dapat?
Ibaratnya
sama dengan pertanyaan apakah perlu menyekolahkan seorang anak hingga doktor
atau memberi kesempatan semua anak bersekolah hingga meraih gelar sarjana ?
atau paling tidak mengenyam pendidikan SMA? Atau banggakah kita bila sebagian siswa Indonesia berhasil
memenangkan berbagai macam olimpiade tingkat dunia?namun ada sekian banyak anak
yang tidak bisa bersekolah karena terbentur biaya?
Sekolah
mana yang lebih penting mendirikan sekolah yang lengkap dengan fasilitas ac,
kolam renang, akses internet yang tidak lelet, kelas yang nyaman, tapi hanya
bisa dinikmati oleh orang berduit saja? Ataukah dengan sekolah yang
fasilitasnya serba kekurangan, ruang sumpek, atap bocor, lantai bolong, papan
tulis jelek, guru sering tdk masuk karena jauh dari jangkauan?
Institusi
pendidikan bagaimanapun juga dan ditilik dari sisi mana saja hari ini merupakan
bagian tak terpisahkan dari pasar dan tak imun dari serbuan kecenderungan
global. Setidaknya ada dua hal penting yang perlu kita cermati.
Pertama,
perekrutan berdasarkan prestasi dan potensi yang dimiliki siswa. Selama ini
sekolah unggulan, sekolah internasional atau apa pun namanya identik dengan
orang tua berduit
Kedua, berorientasi pada pembentukan karakter yang sesuai dengan kepribadian bangsa.
Sekolah unggulan dan sekolah internasional selama ini lebih mengutamakan
penguasaan sejumlah bahasa asing dan memiliki sejumlah keahlian khusus di
bidang penerapan teknologi tepat guna. Sedangkan bidang moralitas dan aspek
rohani para siswa seringkali terabaikan. Kita jumpai banyak siswa atau alumni
sekolah unggulan yang tidak pandai menyesuaikan diri dengan masyarakatnya dan
bahkan terus terang melabrak norma dan etika yang diajarkan bangsanya.
Kita patut sedikit curiga dan selayaknya kritis dengan ideologi yang membonceng
di balik proyek pengembangan dan menjamurnya sekolah internasional. Karena
banyak di antara siswa sekolah internasional yang lebih kenal dengan negara
luar daripada negerinya sendiri. Lebih akrab dengan tokoh negara lain ketimbang
negara sendiri. Disamping itu kurikulum sekolah internasional juga bertolak
belakang dengan kebutuhan rata-rata lapangan kerja yang ada di Indonesia.
Dari gambaran di atas terlihat bahwa sekolah internasional diakui memang
memiliki sejumlah keunggulan, namun pendirian sekolah internasional juga tak
luput dari sejumlah kekurangan dan kontradiksi di dalamnya. Bila tidak jeli
menyikapinya, lama kelamaan sekolah
internasional akan merusak kepribadian dan karakter bangsa dari dalam. Karenanya
sekolah merupakan tempat paling strategis untuk penyemaian berbagai ideologi yang
sarat dengan kepentingan.
Nyata
buktinya, jika ini terjadi masihkah sekolah International dipertahankan?
Ataukah jika dipertahankan dapatkah bangsa Indonesia mensiasati ancaman-ancaman
yang mungkin akan menggrogoti karakter bangsa Indonesia yang bermula dari dunia
pendidikan?


0 Comments