Wikipedia

Hasil penelusuran

Tingkatkan Karakter Bangsa dengan Sekolah Internasional? [i]

 


Tingkatkan Karakter Bangsa dengan Sekolah Internasional? [i]

Oleh: Sri Wahyuni[ii]

 

Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau "murid") di bawah pengawasan guru. Lembaga pendidikan yang dirancang tersebut secara nyata menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada masalah dengan kata pengajaran siswa. Namun menjadi masalah bila siswa yang dimaksud adalah siswa “tertentu” saja. Lantas pertanyaan lanjutnya bagaimana dengan siswa yang tidak mampu? Apa kata sekolah masih bisa berlaku? Sejak merebaknya sekolah International terhitung sejak diresmikan dan digalakkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tahun 2006. Yang nyata terbaca sampai saat ini wacana sekolah internasional melengkapi sejumlah kontroversi dunia pendidikan negeri ini.

Kembali ke pertanyaan semula, apakah lebih penting menyelenggarakan sebuah sekolah unggul yang bertaraf international namun hanya segelintir orang yang bisa menikmatinya? Ataukah menciptakan sekolah biasa  yang semua rakyat Indonesia dapat mengaakses pendidikan tersebut dengan biaya terjangkau dan mudah di dapat?

Ibaratnya sama dengan pertanyaan apakah perlu menyekolahkan seorang anak hingga doktor atau memberi kesempatan semua anak bersekolah hingga meraih gelar sarjana ? atau paling tidak mengenyam pendidikan SMA? Atau banggakah  kita bila sebagian siswa Indonesia berhasil memenangkan berbagai macam olimpiade tingkat dunia?namun ada sekian banyak anak yang tidak bisa bersekolah karena terbentur biaya?

Sekolah mana yang lebih penting mendirikan sekolah yang lengkap dengan fasilitas ac, kolam renang, akses internet yang tidak lelet, kelas yang nyaman, tapi hanya bisa dinikmati oleh orang berduit saja? Ataukah dengan sekolah yang fasilitasnya serba kekurangan, ruang sumpek, atap bocor, lantai bolong, papan tulis jelek, guru sering tdk masuk karena jauh dari jangkauan?

Institusi pendidikan bagaimanapun juga dan ditilik dari sisi mana saja hari ini merupakan bagian tak terpisahkan dari pasar dan tak imun dari serbuan kecenderungan global. Setidaknya ada dua hal penting yang perlu kita cermati.

Pertama, perekrutan berdasarkan prestasi dan potensi yang dimiliki siswa. Selama ini sekolah unggulan, sekolah internasional atau apa pun namanya identik dengan orang tua berduit 
Kedua, berorientasi pada pembentukan karakter yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Sekolah unggulan dan sekolah internasional selama ini lebih mengutamakan penguasaan sejumlah bahasa asing dan memiliki sejumlah keahlian khusus di bidang penerapan teknologi tepat guna. Sedangkan bidang moralitas dan aspek rohani para siswa seringkali terabaikan. Kita jumpai banyak siswa atau alumni sekolah unggulan yang tidak pandai menyesuaikan diri dengan masyarakatnya dan bahkan terus terang melabrak norma dan etika yang diajarkan bangsanya.

Kita patut sedikit curiga dan selayaknya kritis dengan ideologi yang membonceng di balik proyek pengembangan dan menjamurnya sekolah internasional. Karena banyak di antara siswa sekolah internasional yang lebih kenal dengan negara luar daripada negerinya sendiri. Lebih akrab dengan tokoh negara lain ketimbang negara sendiri. Disamping itu kurikulum sekolah internasional juga bertolak belakang dengan kebutuhan rata-rata lapangan kerja yang ada di Indonesia.

Dari gambaran di atas terlihat bahwa sekolah internasional diakui memang memiliki sejumlah keunggulan, namun pendirian sekolah internasional juga tak luput dari sejumlah kekurangan dan kontradiksi di dalamnya. Bila tidak jeli menyikapinya, lama kelamaan  sekolah internasional akan merusak kepribadian dan karakter bangsa dari dalam. Karenanya sekolah merupakan tempat paling strategis untuk penyemaian berbagai ideologi yang sarat dengan kepentingan.

Nyata buktinya, jika ini terjadi masihkah sekolah International dipertahankan? Ataukah jika dipertahankan dapatkah bangsa Indonesia mensiasati ancaman-ancaman yang mungkin akan menggrogoti karakter bangsa Indonesia yang bermula dari dunia pendidikan?



[i] Tugas penulisan artikel mingguan pertemuan ke-6 Senin 31 Oktober 2011

[ii] Mahasiswa PPs STAIN Pontianak Angkatan 2011 Semester 2

0 Comments

Follow Me On Instagram