Sertifikasi Guru? [1]
Sertifikasi Guru? [1]
Oleh: Sri Wahyuni[2]
Kebanyakan guru mempunyai tujuan untuk mengikuti sertifikasi
adalah untuk motif ekonomi dan motif psikologis, motif ekonomi didasari dengan
naiknya gaji guru 100% apabila mereka berhasil lulus sertifikasi nanti, sehingga
kesejahteraan mereka pun ikut naik. Motif
psikologisnya mereka lebih dihormati karena pangkat/jabatan mereka lebih
tinggi. Disisi lain ada pengakuan bahwa guru tersebut sudah disertifikasi yang
notabene dia sudah mengikuti seleksi yang ketat dan telah memenuhi kriteria
kuru cakap dalam segala hal. Mereka juga mempunyai tingkat kepercayaan yang
tinggi bila berada dilingkungan guru-guru.
Namun kesuksesan mereka dalam meraih hal tersebut seringkali tidak diikuti dengan komitmen keprofessionalan
mereka dalam mengajar, malah terkadang mereka kurang rajin dalam mengajar, dan
menuntut bahwa mereka memiliki kelebihan jam mengajar, ini dikarenakan mereka telah mempunyai pendapatan
cukup dan mulai sering bolos kerja, terlebih pegawai negeri yang notabene sering
meliburkan diri atau cuti bersama atau hari kejepit (libur tanggung). Bila ini
terjadi maka akan menimbulkan fenomena gunung es yang tak berkesudahan.
Pontianak
juga termasuk kota yang mempunyai fenomena unik seperti hal diatas, bagaimana
tidak sertifikasi guru yang seharusnya dilakukan dengan memandang segi
positifnya malah menjadi ajang buat
unjuk kebolehan memperoleh wewenang dan wadah peroleh pundi-pundi uang yang
besar. Sertifikasi yang semestinya benar-benar ahli dalam bidangnya dan mampu menjalankan
proses belajar mengajar di kelas dengan baik, keikhlasan yang penuh tentunya
diperlukan sehingga apa yang mereka lakukan bermanfaat bagi siswa yang mereka
ajar dan calon penerus mereka nanti di kemudian hari, berubah menjadi fenomena
negatif yang selalu menggejala setiap
waktu
Namun
meskipun banyak masalah dibalik sertifikasi guru penulis tetap menggantungkan
banyak harapan bahwa kedepannya sertifikasi guru benar-benar menjadi wadah
untuk mencari guru-guru yang benar-benar memiliki dedikasi, potensi dan professional
dibidangnya. Penting karena guru merupakan awal mula pelaku pendidikan setelah
keluarga. Guru ditangannyalah anak bangsa menggantungkan segala harapan bila
guru yang dipercaya tidak dapat memegang amanah tersebut bagaimana mungkin anak
bangsa dapat menjadi penerus yang berkualitas.
NB: Kutipan
dari berbagai sumber di www.google.com


0 Comments