Orientasi Pendidikan Islam [1]
Orientasi Pendidikan Islam[1]
Oleh Sri
Wahyuni[2]
Pendidikan
sejatinya merupakan proses sosial yang bertujuan untuk mengembangkan potensi
manusia baik secara individual maupun secara sosial. Sebab dengan pendidikanlah
manusia dapat memerankan hidupnya sebagai makhluk yang paling mulia di dunia
ini. Karena itu pendidikan juga merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan
manusia yang berlangsung seumur hidup (long life education).
Secara
esensial, Islam sebenarnya tidak memberikan resep, tetapi Islam banyak
memberikan petunjuk, memberikan aspirasi dan etika. Di samping itu juga, Islam
memberikan tuntutan yang bersifat etik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan itu
sendiri.
Lemahnya
etos keilmuan umat Islam belum mampu merubah nasib umat muslim sendiri. Ini
yang membuat aksentuasi pendidikan pada wawasan normatif-teoritik nampaknya
belum mampu menjadi tumpuan harapan umat dalam pergumulan kemajuan sosial
budaya. Sedangkan aspek rasional-fungsionalistik, nampaknya belum digarap
secara maksimal, padahal tuntutan global masa depan banyak tergantung pada
aspek ini.
Pendidikan Islam kontinuitas merupakan solusi
paradigmatik dalam menangkal keprihatinan. Sebagai langkah adaptatif, maka
konseptualisasi pendidikan Islam itu harus diaksentuasikan pada aspek
keuniversalan manusia dan ilmu pengetahuan yang kemudian berikhtiar mewujudkan
manusia yang “kaffah” atau sempurna. Artinya sebagai lembaga alternatif,
pendidikan Islam hendaknya mampu menampilkan paradigma yang berwawasan
universal atau ‘dengan ungkapan lain yang berwawasan semesta. Sehingga kita
tidak lagi memandang ilmu pengetahuan itu secara parsial ansich akan tetapi
kita akan memandangnya sebagai hal yang universal-integral. Dengan demikian,
pendidikan Islam tak lagi tampil dengan pengendapan atau mementingkan aspek
vertikal (normatif) tetapi justru mampu memadukannya dengan aspek
horizontalnya.
Dengan
demikian, gagasan pendidikan Islam seharusnya mampu merefleksikan manusia
universal tersebut sebagai sumberdaya insaniah yang berkualitas dan yang banyak
mengambil peran dalam kehidupan sehari hari.
Untuk
itu, tantangan global masa depan umat Islam ke depan seharusnya dihadapi dengan
menguras semaksimal mungkin warisan kreatif Tuhan kepada umat manusia. Kondisi
ini, semestinya kita secara kontinuitas selalu mengadakan pembenahan secara
inovatif yang dijiwai oleh etika dan jiwa serta semangat Islam.. Maka peran
pendidikan Islam menjadi kian vital dalam menghadapi percaturan global yang
semakin kompetitif Ini merupakan wujud manifesto riil pendidikan Islam dalam
membawa pesan pesan edukatif dan spiritual Islam ke semua umat manusia.
Maka
dengan demikian, pendidikan secara umum dan khususnya pendidikan Islam
seharusnya mampu menghasilkan output bahkan outcome manusia
universal sebagai sumberdaya insaniah yang berkualitas yang mampu mengemban
misi rahmatan li al-Alamin dan mempunyai kesadaran transendental.
Karakteristik cendekiawan muslim yang dianggap kompeten membangun masyarakat
yang berperadaban tersebut dalam al-Qur’an disebut sebagai Ulul Albab. Menurut
Dawam Rahardjo, kata yang paling tepat untuk dirujuk dalam konteks makna dan
tugas cendekiawan muslim dewasa ini adalah Ulul Albab, sebab dalam kata Ulul
Albab itulah kombinasi antara ulama dan pemikir itu terlihat dengan jelas. Kata
Ulul Albab merupakan sebuah konsep yang penting dalam al-Qur’an berkaitan
dengan hakikat sosial keberagamaan Islam. Kata ini disebutkan sebanyak enam
belas kali di dalam al-Qur’an. Ulul Albab inilah yang nantinya menjadi sebuah tawaran
output sekaligus outcome pendidikan, mengingat
kegagalan-kegagalan pendidikan yang telah disebutkan di atas.
Target
ideal yang harus dicapai oleh lembaga pendidikan Islam adalah melahirkan
manusia-manusia yang mempunyai kesiapan untuk mencapai karakteristik Ulul Albab
seperti yang dimaksud. Output dan outcome pendidikan seperti
inilah yang merupakan arah yang harus dituju agar kelak mampu mewujudkan
peradaban Islam alternatif.
Apabila
dicermati gambaran output dan outcome pendidikan yang ditawarkan
oleh al-Qur’an yang diharapkan mampu memunculkan peradaban Islam alternatif
tersebut, selaras dengan apa yang telah dicanangkan oleh UNESCO tentang enam
pilar pendidikan yaitu learning to know (belajar untuk mengetahui), learning
to do (belajar untuk mengerjakan), learning to be (belajar untuk
menjadi), learning to live together (belajar untuk bisa hidup
bersama dalam masyarakat), learning how to learn (belajar bagaimana
belajar) dan learning throghout life (belajar sepanjang kehidupan).
Menurut UNESCO, keluaran dari proses pendidikan merupakan pribadi utuh dengan
keunggulan secara berimbang dalam aspek spiritual, sosial, intelektual,
emosional dan fisikal. Di samping itu, juga pendidikan yang mempersiapkan
peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan hidup secara seimbang antara
kehidupan dunia dan akhirat, antara kehidupan pribadi dengan kehidupan bersama
(sosial).
Dari
uraian di atas dapat dipahami bahwa Ulul Albab merupakan sebuah tawaran output
sekaligus outcome ideal yang harus dicapai oleh pendidikan Islam. Namun
kenyataannya, semakin hari umat Islam semakin tertinggal jauh dari tuntutan
zaman. Dengan kata lain, pendidikan belum berhasil menciptakan output dengan
karakteristik Ulul Albab, ulama` dan pemikir, karena kurang adanya kejelasan
orientasi pendidikan. Penyebab lain yaitu keluaran pendidikan dipahami hanya
sebagai output, tidak sampai menyentuh wilayah outcome
pendidikan; padahal, tantangan pendidikan Islam di era post-modern ini
sangatlah berat.
NB: Kutipan dari berbagai sumber di
www.google.com


0 Comments