Peningkatan IPM Sambas Pasti Terangkat
Peningkatan IPM Sambas Pasti Terangkat[1]
Oleh Sri Wahyuni[2]
Peringkat
Indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia pada 2010 mengalami kenaikan
dibandingkan dengan tahun lalu. Berdasarkan penilaian The United Nations
Development Programme (UNDP) Indonesia menduduki peringkat 107 dari 189 Negara.
Indonesia masih jauh berada dibawah Singapura, Brunai Darussalam, Malaysia, Thailand,
yang menduduki peringkat diatas Indonesia
untuk negara ASEAN. https://www.cnbcindonesia.com
Indeks
pembangunan manusia (IPM) saat ini telah digunakan sebagai indikator
pembangunan suatu negara atau daerah. Walaupun indikator ini terbatas pada tiga
komponen saja, namun menjadi dasar pencapaian kinerja dari suatu pemerintahan.
Tiga hal yang menjadi ukuran adalah kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Secara
sederhana umur harapan hidup digunakan sebagai wakil sektor kesehatan. Telah
diketahui bahwa status kesehatan masyarakat yang baik dapat memperpanjang umur
harapan hidup. Sebaliknya umur harapan hidup suatu negara menurun dengan
tingginya angka kematian atau angka penyakit yang nantinya mempercepat
kematiannya. Maka perlunya diakadakan sosialisasi hidup sehat alami. Dangan
menerapkan pola hidup sehat alami, secara langsung akan dapat mencegah
datangnya penyakit. Penyakit tidak akan datang apabila kekebalan tubuh
meningkat, bila kekebalan tubuh meningkat maka tubuh tidak akan terkena
penyakit dan biaya secara otomatis dapat di tabung untuk kebutuhan hidup
seperti sekolah anak.
Satu
yang lebih penting adalah peningkatan status gizi. Status gizi secara langsung
dapat mempengaruhi ke tiga indikator di atas. Sebagai ilustrasi, seorang anak
yang lahir dari seorang ibu dengan status gizi yang baik dan memperoleh makanan
yang adekuat selama kehamilannya dapat melahirkan seorang bayi sehat yang
tumbuh berkembang secara optimal dan mempunyai umur harapan hidup yang baik
(kesehatan). Bila bayi ini diberi ASI eksklusif dan memperoleh makanan
pendamping ASI yang kaya gizi pada usia 6 bulan ke atas maka akan tumbuh dengan
tingkat kecerdasan yang optimal. Seterusnya anak ini dapat melanjutkan sekolah
dengan baik (pendidikan) dan bisa menamatkan pendidikannya sampai ke perguruan
tinggi dan akhirnya menjadi sumber daya manusia yang produktif (ekonomi). Lebih
rinci, hubungan status gizi dengan ketiga indikator IPM dapat Sektor pendidikan
dinilai dari prosentasi anak yang bersekolah sesuai umurnya termasuk jumlah
penduduk yang bisa baca tulis.
Kesadaran
akan permasalahan gizi juga harus disertai dengan pemahaman tentang keberagaman
masalah yang terkait di dalamnya. Mereka harus paham bahwa masalah gizi tidak
hanya terkait dengan anak yang tidak mau makan atau kurang makanan di tingkat
rumah tangga, namun terkait juga dengan pendidikan ibunya, pengetahauan dan
ketrampilan yang dimiliki si ibu untuk merawat anaknya, dukungan keluarga
terutama suami untuk mendampingi ibu hamil dan balita tentang kesehatan mereka.
Dukungan masyarakat juga tidak kalah pentingnya, pada saat seorang ibu hamil membutuhkan
bantuan baik material maupun non-material untuk kesehatan dan janin yang
dikandungnya.
Sulsel
sudah menetapkan bahwa mimpi yang akan diraih dalam pemerintahan ini adalah
membawa peringkat Sulsel dari kelompok IPM terbawah menjadi kelompok IPM
tertinggi. Tentu tidak ada satu solusi yang cocok buat semua wilayah untuk
meningkatkan IPM. Namun demikian, satu-satunya ide dasar yang tidak bisa
ditunda dan dapat mendongkrak (leverage) nilai IPM adalah perbaikan gizi ibu
dan anak. Para ahli di berbagai negara sudah sepakat bahwa memberi perhatian
kepada status gizi ibu dan anak merupakan jalan terbaik untuk memutuskan rantai
kemiskinan
Darimana memulainya? adalah pemahaman para pengambil kebijakan terhadap data
status gizi anak.Pemahaman di atas harusnya melahirkan suatu kebijakan
penanggulanan masalah gizi yang holistik. Setiap unit kerja harus lebih detail
dalam memilih aktifitas “berkualitas” yang sangat terkait dengan masalah gizi. Dinas pertanian misalnya
harus menyadari bahwa outcome dari program pertanian tidak saja tidak hanya
memenuhi kebutuhan pangan namun disilain masyarakat juga memperoleh akses makanan yang
berkualitas dan terpenuhi buat seluruh anggota keluarga yang terpenting adalah
ibu dan anak balitanya. Sehingga pemahanan terhadap makanan yang dibutuhkan
oleh seorang ibu hamil dan balita harus tersedia dan mudah diakses oleh keluarga
tersebut harus terus dikaji. Dinas pendidikan secara tidak langsung harus
mengupayakan pemerataan pendidikan bagi semua anggota masyarakat terutama
pendidikan informal kepada ibu rumah tangga. Yang paling sederhana adalah
pendidikan bagaimana menjadi orang tua yang memiliki bekal yang cukup untuk
memberi makan dan memelihara kesehatan dirinya dan anaknya dengan baik.
Demikian pula dengan dinas dan instansi non departemen lainnya.
PKK,
Darwa Wanita, Posyandu dan seluruh organisasi wanita lainnya harus dibangkitkan
lagi dan terlihat nyata di lapangan. Kader-kader gizi di desa hampir semuanya
wanita, mereka seharusnya dibimibing secara terus menerus dan dilakukan tanpa
kenal lelah. Disamping itu peran perguruan tinggi, LSM, dan lembaga-lembaga di
masyarakat yang ingin terlibat dalam satu gerakan memerangi anak kurang gizi
harus dimaksimalkan. Dana CSR (Coorperate Social Responsibility) dari setiap
perusahaan dapat dimanfaatkan, misalnya dalam program edukasi gizi di
masyarakat sehingga di setiap sudut desa, kita bisa melihat pesan spanduk tentang penyadaran masyarakat
terhadap pentingya gizi bagi keluarga.
Meskipun status gizi menjadi point penting dalam artikel ini maka peningkatan
kualitas pendidikan merupakan suatu keharusan, karena begitu banyak hal yang
harus dipenuhi. Biaya sekolah yang sebagaian besar masih banyak yang belum bisa
memenuhi hal itu seperti yang telah dipaparkan diatas tidak mampu, tetap saja
orang tua merasa tidak siap karena biaya-biaya lainnya telah menanti. Namun
semua itu bisa teratasi sedikit demi sedikit apabila perusahaan atau
pabrik-pabrik dapat memberikan dana kepada sekolah yang ditujukan pada
siswa-siswa yang kurang mampu.
Selanjutnya
mutu guru juga perlu ditingkatkan karena banyak
guru-guru yang “berkualitas” enggan mengajar di daerah pedalaman,
meskipun diberikan tunjangan yang “cukup” namun mereka lebih memilih daerah
perkotaan karena semua bisa terpenuhi. Putri-putri daerah yang menuntut ilmu di
perkotaan maupun di propinsi lain juga tidak mau ditempatkan di daerah
pedalaman/pedesaan meskipun ia berpenduduk asli daerah itu. Mereka tidak
memiliki rasa “sense of belonging” sehingga menganggap bahwa pendidikan
bukanlah tugas pribadi melainkan tugas Negara. Hal inilah yang harus ditanamkan
pada siswa sejak dini kepada pihak sekolah bahwa setiap anak adalah asset bagi
bangsanya untuk memajukan sebuah peradaban.
|
Sektor
ekonomi diukur dengan pendapatan per kapita atau dapat dikatakan ukuran
tingkat produktifitas yang dapat disumbangkan setiap orang. Daerah sambas
berpotensi sebagai daerah pariwisata yang layak untuk dikunjungi. Misalnya wisata
Danau Sebedang yang merupakan
salah satu obyek wisata alam andalan Kabupaten Sambas. Kawasan yang menjadi
pintu gerbang masuk ke Kabupaten Sambas. Kraton Sambas: Di gunakan sebagai
tempat wisata sejarah. Istana ini memiliki bentuk arsitektur kebesaran melayu
di mana di dalamnya terdapat bebagai koleksi barang-barang peninggalan
kerajaan bersejarah kerajaan Sambas antara lain, Buku-buku, Perlengkapan
Upacara, Pakain Kebesaran Meriam dan Barang-barang dari cina. Pantai Polaria
dan Pantai Sinam: Pantai Polaria di Desa sungai Rusa, Kecamatan Selakau
sedangkan Pantai Sinam terdapat di pinggir Kota Pemangkat, Pantai Tanjung
Batu: Berada di Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas. Pantai Bukit Raya
Putri Serai: Terletak di Desa Jawai Laut, Kecamatan Jawai. Pantai Dungun
Laut: Terletak di Desa Dungan Laut Kecamatan Jawai. Pantai Camar Wulan: Terletak
di Desa Sebubus Kecamatan Paloh. Pantai Tanjung Kemuning. Air Terjun Riam Caggat adalah
salah satu objek yang terletak di Desa Batang Air Kecamatan Sajingan Besar
kabupaten Sambas Begitu
banyak potensi alam Sambas yang luar biasa. Semua hal itu dapat menjadi asset
bagi Sambas untuk bisa meyakinkan para pelancong untuk berpariwisata di alam
yang masih asri. Selain
pariwisata yang dapat mendongkrak ekonomi masyarkat sambas adapula sumber
alam yang tidak kalah penting yaitu salah
satu potensi alam yang belum digali optimal adalah sektor perikanan. Ikan
yang diekplorasi dari perairan kabupaten ini baru 30 persen. Sebagian besar
belum mampu dimaksimalkan penangkapannya. “Sebanyak 70 persen potensi
perikanan di Kabupaten Sambas belum tergarap,” ungkap Bupati Sambas,
Burhanuddin A Rasyid.Tahun 2009 saja, ikan yang berhasil ditangkap nelayan di
Sambas mencapai 25 ribu ton. Jumlah tersebut sebenarnya jauh lebih kecil
dengan potensi yang ada. Ikan-ikan hasil nelayan Sambas di daratkan di
Pemangkat, Jawai dan Selakau, dan pelabuhan-pelabuhan tradisional lainnya. Selanjutnya
berdasarkan data dari Departemen Pertanian, luas areal jeruk Siam Sambas di
Kabupaten Sambas saat ini telah mencapai 6.928,07 hektare, dan Kecamatan
Tebas menjadi salah satu pusat perkebunan. Areal tanaman yang sudah
berproduksi mencapai 3.389,39 hektare dengan produksi mencapai 13.595,17 ton.
Pada tanaman yang telah berumur antara 3-4 tahun, rata-rata produktivitas
tanaman berkisar 10 kg-15 kg per pohon. Pada tanaman yang telah berumur
optimal produktivitasnya dapat mencapai 26 kg-32 kg per pohon. Potensi jeruk
tersebut dapat menjadi asset yang luar biasa untuk mencukupu kebutuhan
masyarakat setempat. Belajar
dari negeri samurai, Jepang sangat carut marut dan terpuruk dalam berbagai segi
kehidupan di era sebelum Restorasi Meiji (Meiji Ishin). Lalu mereka bangkit
dengan melakukan perombakan besar-besaran. Mereformasi pendidikan secara
menyeluruh yang disesuaikan dengan dunia Barat yang sudah duluan maju.
Hasilnya, mata dunia terbelalak melihat bangsa Jepang setelah itu. Jepang
berubah menjadi bangsa yang luar biasa maju dari segi kompetensi ilmu
pengetahuan dan teknologi. Dalam
jangka waktu sekitar 30 tahun, Jepang melakukan lompatan dari negara
terisolasi, terbelakang, dan tradisional, menjadi negara maju yang sangat
kompetitif. Dan kini negeri Sakura menjadi begitu kaya raya dan terkenal
sebagai negara industri maju, setara dengan Amerika Serikat dan Eropa. Hampir
kita semua sudah akrab dengan produk-produk industri Jepang seperti merek-merek
Toyota, Suzuki, Honda, Sony, dan banyak lagi. Sambas sebenarnya bila dilihat
dari segi human development index (HDI) indeks pembangunan manusia (IPM).
Artinya masyarakatnya sangat terpelajar karena mayoritas telah mengecap
pendidikan. Lalu bagaimana sikap kita agar bisa maju guna mewujudkan Sambas
menjdadi kota terdepan? Tidak ada pilihan lain, kecuali mengubah sikap kita.
Meninggalkan sikap pemalas, membuang etos kerja yang rendah, tidak lagi
menjadi pekerja “RMS” atau rajin malas sama saja. Mari kita
belajar dari “resep rahasia” sukses bangsa Jepang. Meniru mental Bushido atau
jalan hidup samurai bangsa Jepang, yakni kerja keras, jujur, hormat pada
pemimpin, tidak individualistis, tidak egois, bertanggung jawab, bersih hati,
dan harus tahu malu. Jika tidak, kita akan tertinggal dan terus tertinggal
sampai peradaban ini usai. Dari semua gambaran tentang nilai Bushido
ini, dapat diambil beberapa pelajaran
positif yang bisa kita tiru. Bahwa, Indonesia tidak kunjung maju karena
orang-orang yang tidak mau introspeksi diri dan selalu mengkambinghitamkan
orang lain bila terjadi kesalahan. Dengan kata lain minim tanggung jawab dan
rasa malu! Perlulah kiranya kita belajar dari Jepang tentang budaya malu,
bertanggung jawab dan sikap tegas. Selain itu Indonesia selai negara
berragama, masih perlu dikoreksi secara sebagai negara beragama, masih perlu
dikoreksi secara besar-esaran, terutama dalam pola pikirannya walaupun Jepang
bukan negara beragama, nilai-nilai universal dalam agama (kejujuran,
tanggungjawab, dll) sudah terimplementasikan secara baik dan sudah menjadi
system kepribadian bagi setiap orangnya. Sedangkan di Indonesia, nilai-nilai
agama (agama apapun itu) masih sebatas system pengetahuan (kognitif) saja,
bukan system kepribadian (afektif/psikomotorik). Atau hanya sebatas teori, no
action. Sebuah keniscayaan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) di sambas akan selalu menurun bila semua hala-hal
diatas dapat lebih ditingkatkan . Akhirnya, pemerintah diharapkan dapat bekerja
lebih keras lagi untuk mengkoordinir kegiatan-kegiatan dan memaksimalkan
potensi alam di Sambas. Gubernur dengan seluruh jajarannya di tingkat
propinsi serta bupati dan jajarannya di daerah, harus turun langsung bersama
masyarakat dan selalu terlibat aktif memonitor naik turunnya indikator status
gizi ini di daerahnya masing-masing. Serta selalu meningkatkan mutu
pendidikan disegala bidang. Begitu juga dengan potensi alam dan pariwisatanya.
Dengan kesadaran penuh, bila angka kekurangan gizi menurun, tingkat
pendidikan yang meningkat serta kebutuhan ekonomi tercukupi maka sedikit demi
sedikit, dan suatu saat nanti, dengan berbagai program pembangunan yang kita
laksanakan, kondisi gizi anak-anak kita terus meningkat dan semua ini akan
mendorong peringkat IPM di Sambas ke posisi terhormat. NB: Kutipan
dari berbagai sumber di www.google.com |


0 Comments