Wikipedia

Hasil penelusuran

Peningkatan IPM Sambas Pasti Terangkat

 


Peningkatan IPM Sambas Pasti Terangkat[1]

Oleh Sri Wahyuni[2]


Peringkat Indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia pada 2010 mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun lalu. Berdasarkan penilaian The United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia menduduki peringkat 107 dari 189 Negara. Indonesia masih jauh berada dibawah Singapura, Brunai Darussalam, Malaysia, Thailand,  yang menduduki peringkat diatas Indonesia untuk negara ASEAN.  https://www.cnbcindonesia.com

 


Indeks pembangunan manusia (IPM) saat ini telah digunakan sebagai indikator pembangunan suatu negara atau daerah. Walaupun indikator ini terbatas pada tiga komponen saja, namun menjadi dasar pencapaian kinerja dari suatu pemerintahan. Tiga hal yang menjadi ukuran adalah kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Secara sederhana umur harapan hidup digunakan sebagai wakil sektor kesehatan. Telah diketahui bahwa status kesehatan masyarakat yang baik dapat memperpanjang umur harapan hidup. Sebaliknya umur harapan hidup suatu negara menurun dengan tingginya angka kematian atau angka penyakit yang nantinya mempercepat kematiannya. Maka perlunya diakadakan sosialisasi hidup sehat alami. Dangan menerapkan pola hidup sehat alami, secara langsung akan dapat mencegah datangnya penyakit. Penyakit tidak akan datang apabila kekebalan tubuh meningkat, bila kekebalan tubuh meningkat maka tubuh tidak akan terkena penyakit dan biaya secara otomatis dapat di tabung untuk kebutuhan hidup seperti sekolah anak.

 

Satu yang lebih penting adalah peningkatan status gizi. Status gizi secara langsung dapat mempengaruhi ke tiga indikator di atas. Sebagai ilustrasi, seorang anak yang lahir dari seorang ibu dengan status gizi yang baik dan memperoleh makanan yang adekuat selama kehamilannya dapat melahirkan seorang bayi sehat yang tumbuh berkembang secara optimal dan mempunyai umur harapan hidup yang baik (kesehatan). Bila bayi ini diberi ASI eksklusif dan memperoleh makanan pendamping ASI yang kaya gizi pada usia 6 bulan ke atas maka akan tumbuh dengan tingkat kecerdasan yang optimal. Seterusnya anak ini dapat melanjutkan sekolah dengan baik (pendidikan) dan bisa menamatkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi dan akhirnya menjadi sumber daya manusia yang produktif (ekonomi). Lebih rinci, hubungan status gizi dengan ketiga indikator IPM dapat Sektor pendidikan dinilai dari prosentasi anak yang bersekolah sesuai umurnya termasuk jumlah penduduk yang bisa baca tulis.

 

Kesadaran akan permasalahan gizi juga harus disertai dengan pemahaman tentang keberagaman masalah yang terkait di dalamnya. Mereka harus paham bahwa masalah gizi tidak hanya terkait dengan anak yang tidak mau makan atau kurang makanan di tingkat rumah tangga, namun terkait juga dengan pendidikan ibunya, pengetahauan dan ketrampilan yang dimiliki si ibu untuk merawat anaknya, dukungan keluarga terutama suami untuk mendampingi ibu hamil dan balita tentang kesehatan mereka. Dukungan masyarakat juga tidak kalah pentingnya, pada saat seorang ibu hamil membutuhkan bantuan baik material maupun non-material untuk kesehatan dan janin yang dikandungnya.

 

Sulsel sudah menetapkan bahwa mimpi yang akan diraih dalam pemerintahan ini adalah membawa peringkat Sulsel dari kelompok IPM terbawah menjadi kelompok IPM tertinggi. Tentu tidak ada satu solusi yang cocok buat semua wilayah untuk meningkatkan IPM. Namun demikian, satu-satunya ide dasar yang tidak bisa ditunda dan dapat mendongkrak (leverage) nilai IPM adalah perbaikan gizi ibu dan anak. Para ahli di berbagai negara sudah sepakat bahwa memberi perhatian kepada status gizi ibu dan anak merupakan jalan terbaik untuk memutuskan rantai kemiskinan


Darimana memulainya? adalah pemahaman para pengambil kebijakan terhadap data status gizi anak.Pemahaman di atas harusnya melahirkan suatu kebijakan penanggulanan masalah gizi yang holistik. Setiap unit kerja harus lebih detail dalam memilih aktifitas “berkualitas” yang sangat  terkait dengan masalah gizi. Dinas pertanian misalnya harus menyadari bahwa outcome dari program pertanian tidak saja tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan namun disilain  masyarakat juga memperoleh akses makanan yang berkualitas dan terpenuhi buat seluruh anggota keluarga yang terpenting adalah ibu dan anak balitanya. Sehingga pemahanan terhadap makanan yang dibutuhkan oleh seorang ibu hamil dan balita harus tersedia dan mudah diakses oleh keluarga tersebut harus terus dikaji. Dinas pendidikan secara tidak langsung harus mengupayakan pemerataan pendidikan bagi semua anggota masyarakat terutama pendidikan informal kepada ibu rumah tangga. Yang paling sederhana adalah pendidikan bagaimana menjadi orang tua yang memiliki bekal yang cukup untuk memberi makan dan memelihara kesehatan dirinya dan anaknya dengan baik. Demikian pula dengan dinas dan instansi non departemen lainnya.

 

PKK, Darwa Wanita, Posyandu dan seluruh organisasi wanita lainnya harus dibangkitkan lagi dan terlihat nyata di lapangan. Kader-kader gizi di desa hampir semuanya wanita, mereka seharusnya dibimibing secara terus menerus dan dilakukan tanpa kenal lelah. Disamping itu peran perguruan tinggi, LSM, dan lembaga-lembaga di masyarakat yang ingin terlibat dalam satu gerakan memerangi anak kurang gizi harus dimaksimalkan. Dana CSR (Coorperate Social Responsibility) dari setiap perusahaan dapat dimanfaatkan, misalnya dalam program edukasi gizi di masyarakat sehingga di setiap sudut desa, kita bisa melihat  pesan spanduk tentang penyadaran masyarakat terhadap pentingya gizi bagi keluarga.


Meskipun status gizi menjadi point penting dalam artikel ini maka peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu keharusan, karena begitu banyak hal yang harus dipenuhi. Biaya sekolah yang sebagaian besar masih banyak yang belum bisa memenuhi hal itu seperti yang telah dipaparkan diatas tidak mampu, tetap saja orang tua merasa tidak siap karena biaya-biaya lainnya telah menanti. Namun semua itu bisa teratasi sedikit demi sedikit apabila perusahaan atau pabrik-pabrik dapat memberikan dana kepada sekolah yang ditujukan pada siswa-siswa yang kurang mampu.

 

Selanjutnya mutu guru juga perlu ditingkatkan karena banyak  guru-guru yang “berkualitas” enggan mengajar di daerah pedalaman, meskipun diberikan tunjangan yang “cukup” namun mereka lebih memilih daerah perkotaan karena semua bisa terpenuhi. Putri-putri daerah yang menuntut ilmu di perkotaan maupun di propinsi lain juga tidak mau ditempatkan di daerah pedalaman/pedesaan meskipun ia berpenduduk asli daerah itu. Mereka tidak memiliki rasa “sense of belonging” sehingga menganggap bahwa pendidikan bukanlah tugas pribadi melainkan tugas Negara. Hal inilah yang harus ditanamkan pada siswa sejak dini kepada pihak sekolah bahwa setiap anak adalah asset bagi bangsanya untuk memajukan sebuah peradaban.

 

Sektor ekonomi diukur dengan pendapatan per kapita atau dapat dikatakan ukuran tingkat produktifitas yang dapat disumbangkan setiap orang. Daerah sambas berpotensi sebagai daerah pariwisata yang layak untuk dikunjungi. Misalnya wisata Danau Sebedang yang merupakan salah satu obyek wisata alam andalan Kabupaten Sambas. Kawasan yang menjadi pintu gerbang masuk ke Kabupaten Sambas. Kraton Sambas: Di gunakan sebagai tempat wisata sejarah. Istana ini memiliki bentuk arsitektur kebesaran melayu di mana di dalamnya terdapat bebagai koleksi barang-barang peninggalan kerajaan bersejarah kerajaan Sambas antara lain, Buku-buku, Perlengkapan Upacara, Pakain Kebesaran Meriam dan Barang-barang dari cina. Pantai Polaria dan Pantai Sinam: Pantai Polaria di Desa sungai Rusa, Kecamatan Selakau sedangkan Pantai Sinam terdapat di pinggir Kota Pemangkat, Pantai Tanjung Batu: Berada di Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas. Pantai Bukit Raya Putri Serai: Terletak di Desa Jawai Laut, Kecamatan Jawai. Pantai Dungun Laut: Terletak di Desa Dungan Laut Kecamatan Jawai. Pantai Camar Wulan: Terletak di Desa Sebubus Kecamatan Paloh. Pantai Tanjung Kemuning. Air Terjun Riam Caggat adalah salah satu objek yang terletak di Desa Batang Air Kecamatan Sajingan Besar kabupaten Sambas Begitu banyak potensi alam Sambas yang luar biasa. Semua hal itu dapat menjadi asset bagi Sambas untuk bisa meyakinkan para pelancong untuk berpariwisata di alam yang masih asri.

Selain pariwisata yang dapat mendongkrak ekonomi masyarkat sambas adapula sumber alam yang tidak kalah penting yaitu salah satu potensi alam yang belum digali optimal adalah sektor perikanan. Ikan yang diekplorasi dari perairan kabupaten ini baru 30 persen. Sebagian besar belum mampu dimaksimalkan penangkapannya. “Sebanyak 70 persen potensi perikanan di Kabupaten Sambas belum tergarap,” ungkap Bupati Sambas, Burhanuddin A Rasyid.Tahun 2009 saja, ikan yang berhasil ditangkap nelayan di Sambas mencapai 25 ribu ton. Jumlah tersebut sebenarnya jauh lebih kecil dengan potensi yang ada. Ikan-ikan hasil nelayan Sambas di daratkan di Pemangkat, Jawai dan Selakau, dan pelabuhan-pelabuhan tradisional lainnya.

Pertanian di Sambas sekarang melimpah, melebihi kebutuhan masyarakatnya. Pada awal tahun 2000, kabupaten ini selalu mengalami kesulitan mencukupi kebutuhan sendiri. Sekarang hasil petani surplus 85 ribu ton. “Pada awal kepemimpinan saya satu tahunnya minus 3.000 ton. Sekarang terbalik, hasil padi kita surplus 85 ribu ton,” tegas Burhanuddin.Data Kabupaten Sambas pada tahun 2008 luas panen padi mencapai 82.467 hektar, meningkat dari tahun 2007 yang hanya 78.515 hektar. Terjadi peningkatan dari luas tanam. Kecamatan yang memberi kontribusi tertinggi terhadap produksi padi Sambas yaitu Kecamatan Selakau, 15,5 persen, menyusul Tebas 14,6 persen, Teluk Keramat 11,3 persen, Jawai 10,3 persen dan Pemangkat 9,4 persen.

Begitu juga dengan karet. Kabupaten Sambas setiap tahunnya mampu menghasilkan 15.479 ton crum rubber. Jumlah tersebut dihasilkan oleh kebun yang luasnya mencapai 53 ribu hektar. “Potensi-potensi tersebut akan meningkatkan perekonomian masyarakat kalau saja ada investor yang berinvestasi di Sambas,” tuturnya.Tingginya hasil pertanian di Sambas menunjang perekonomian. Tahun lalu, pertumbuhan kabupaten ini melebih Kalbar, sekitar 4,94 persen. Didominasi sektor pertanian sebesar 43,1 persen.

Selanjutnya berdasarkan data dari Departemen Pertanian, luas areal jeruk Siam Sambas di Kabupaten Sambas saat ini telah mencapai 6.928,07 hektare, dan Kecamatan Tebas menjadi salah satu pusat perkebunan. Areal tanaman yang sudah berproduksi mencapai 3.389,39 hektare dengan produksi mencapai 13.595,17 ton. Pada tanaman yang telah berumur antara 3-4 tahun, rata-rata produktivitas tanaman berkisar 10 kg-15 kg per pohon. Pada tanaman yang telah berumur optimal produktivitasnya dapat mencapai 26 kg-32 kg per pohon. Potensi jeruk tersebut dapat menjadi asset yang luar biasa untuk mencukupu kebutuhan masyarakat setempat.

Belajar dari negeri samurai, Jepang sangat carut marut dan terpuruk dalam berbagai segi kehidupan di era sebelum Restorasi Meiji (Meiji Ishin). Lalu mereka bangkit dengan melakukan perombakan besar-besaran. Mereformasi pendidikan secara menyeluruh yang disesuaikan dengan dunia Barat yang sudah duluan maju. Hasilnya, mata dunia terbelalak melihat bangsa Jepang setelah itu. Jepang berubah menjadi bangsa yang luar biasa maju dari segi kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Dalam jangka waktu sekitar 30 tahun, Jepang melakukan lompatan dari negara terisolasi, terbelakang, dan tradisional, menjadi negara maju yang sangat kompetitif. Dan kini negeri Sakura menjadi begitu kaya raya dan terkenal sebagai negara industri maju, setara dengan Amerika Serikat dan Eropa. Hampir kita semua sudah akrab dengan produk-produk industri Jepang seperti merek-merek Toyota, Suzuki, Honda, Sony, dan banyak lagi. Sambas sebenarnya bila dilihat dari segi human development index (HDI) indeks pembangunan manusia (IPM). Artinya masyarakatnya sangat terpelajar karena mayoritas telah mengecap pendidikan. Lalu bagaimana sikap kita agar bisa maju guna mewujudkan Sambas menjdadi kota terdepan? Tidak ada pilihan lain, kecuali mengubah sikap kita. Meninggalkan sikap pemalas, membuang etos kerja yang rendah, tidak lagi menjadi pekerja “RMS” atau rajin malas sama saja.

 

Mari kita belajar dari “resep rahasia” sukses bangsa Jepang. Meniru mental Bushido atau jalan hidup samurai bangsa Jepang, yakni kerja keras, jujur, hormat pada pemimpin, tidak individualistis, tidak egois, bertanggung jawab, bersih hati, dan harus tahu malu. Jika tidak, kita akan tertinggal dan terus tertinggal sampai peradaban ini usai.

 

Dari semua gambaran tentang nilai Bushido ini, dapat diambil beberapa pelajaran positif yang bisa kita tiru. Bahwa, Indonesia tidak kunjung maju karena orang-orang yang tidak mau introspeksi diri dan selalu mengkambinghitamkan orang lain bila terjadi kesalahan. Dengan kata lain minim tanggung jawab dan rasa malu! Perlulah kiranya kita belajar dari Jepang tentang budaya malu, bertanggung jawab dan sikap tegas. Selain itu Indonesia selai negara berragama, masih perlu dikoreksi secara sebagai negara beragama, masih perlu dikoreksi secara besar-esaran, terutama dalam pola pikirannya walaupun Jepang bukan negara beragama, nilai-nilai universal dalam agama (kejujuran, tanggungjawab, dll) sudah terimplementasikan secara baik dan sudah menjadi system kepribadian bagi setiap orangnya. Sedangkan di Indonesia, nilai-nilai agama (agama apapun itu) masih sebatas system pengetahuan (kognitif) saja, bukan system kepribadian (afektif/psikomotorik). Atau hanya sebatas teori, no action.

 

Sebuah keniscayaan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di sambas akan selalu menurun bila semua hala-hal diatas dapat lebih ditingkatkan . Akhirnya, pemerintah diharapkan dapat bekerja lebih keras lagi untuk mengkoordinir kegiatan-kegiatan dan memaksimalkan potensi alam di Sambas. Gubernur dengan seluruh jajarannya di tingkat propinsi serta bupati dan jajarannya di daerah, harus turun langsung bersama masyarakat dan selalu terlibat aktif memonitor naik turunnya indikator status gizi ini di daerahnya masing-masing. Serta selalu meningkatkan mutu pendidikan disegala bidang. Begitu juga dengan potensi alam dan pariwisatanya. Dengan kesadaran penuh, bila angka kekurangan gizi menurun, tingkat pendidikan yang meningkat serta kebutuhan ekonomi tercukupi maka sedikit demi sedikit, dan suatu saat nanti, dengan berbagai program pembangunan yang kita laksanakan, kondisi gizi anak-anak kita terus meningkat dan semua ini akan mendorong peringkat IPM di Sambas ke posisi terhormat.

 

NB: Kutipan dari berbagai sumber di www.google.com

 



[i] Tugas penulisan artikel mingguan Senin 26 September 2011

[ii] Mahasiswa PPs STAIN Pontianak Angkatan 2011 Semester 2

0 Comments

Follow Me On Instagram