Wikipedia

Hasil penelusuran

Sekolah Kapitalisme yang Licik[1]

 


Sekolah Kapitalisme yang Licik[1]

Oleh: Sri Wahyuni[2]

 

………apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh? Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka. (Y.B. Mangunwijaya)

Pendapat diatas menunjukkan betapa intelektual organik walaupun memiliki output yang cerdas belum tentu berdayaguna untuk masyarakat. Kognitif menjadi muara yang disinyalir menjadi awal penyebab masalah ini. Sekolah-sekolah masa kini berlomba-lomba melahirkan lulusan yang mempunyai pengetahuan yang tinggi untuk dapat bersaing dipasar global. Domain kognitif menjadi salah satu alat untuk bisa menentukan seberapa besar peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang benefit. Domain kognitif lagi-lgi menjadi wadah empuk untuk mendapatkan seluruh keinginan, lulusan dijamin segera mendapat pekerjaan bila lulus seleksi melalui domain ini. Sehingga lahirlah lulusan yang berorientasi  pada materi dalam hidupnya. Lebih dari itu pendidikan mempunyai misi luar biasa dalam memberikan bekal bagi peserta didiknya untuk memanusiakan manusia artinya peserta didik kelak dapat hidup bersama (Learning to live together), dimana tidak ada lagi hal-hal yang membatasi semua itu termasuk berapa besar uang yang bisa mereka raup setiap hari, berapa mewah kendaraan yang meraka gunakan dan hal-hal lain yang berbau materi.

Bila misi tersebut tidak tercapai hanya karena sekolah yang sudah menanamkan benih-benih kapitalis, maka kecil kemungkinan misi mulia tersebut bisa terwujud. Menurut penulis kapitalis lebih ramah pada lembaga yang dinamai sekolah, karena sekolah tempat bertumpunya segala macam harapan dan tujuan. Meskipun tidak mungkin hal itu semua bisa terelakkan. Pendidikan tidak akan bisa lepas dari unsur-unsur capital, banyak hal yang menjadi pemicu diantaranya: seragam sekolah. Seragam sekolah penting untuk selalu digunakan oleh siswa, karena dengan seragam sekolah bisa diketahui dimana peserta didik bersekolah. Namun bagaimana jika seragam juga menjadi alat untuk menggali lubang uang? Banyak sekolah yang mewajibkan peserta didiknya untuk memiliki seragam bahkan tidak kepalang dalam satu sekolah terkadang mewajibkan siswanya memiliki lima pasang seragam sekolah. Hal ini tentu memicu prsangka negative karena dibalik semua itu pasti ada unsur uang didalamnya yang lebih menjanjikan.

Selain seragam sekolah buku paket menjadi incaran selanjutnya oleh para tokoh kapitalis dibalik layar. Cara kerja mereka juga halus tebukti ada sebagian penerbit buku yang menjanjikan bonus kepada pihak sekolah yang dapat menjual buku dangan jumlah yang besar. Uang sekolah juga demikian ada pungutan-pungutan yang mestinya tidak perlu ada meskipun dalihnya untuk pembangunann gedung atau dana operasional laboraturium ini dan itu. Ijash juga bisa menjadi ladang uang buat tokoh ini karena banyak orang yang munyukai produk instan (siap pakai/siap saji). Ijazah menjadi salah satu dari produk instan tersebut Karen orang bisa saja memiliki ijazah tanpa harus bersekolah dan menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk mengajar satu lembar kertas. Miris sekali semua tertepiskan hanya karena ‘uang”.

Bayangkan bila sekolah saja sudah menanamkan benih-benih ini pada peserta didiknya maka suatu hal yang tidak mungkin bila suatu saat nanti negara kita akan dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki akal picik dan licik hasil tempaan kapitalis berkedok pendidikan. Pola piker yang hanya mementingkan uang dan materi dalam hidup. Sehingga tidaklah keliru bila Margaret Mead mengatakan “Nenek ingin aku memperoleh pendidikan karenanya ia melarangku sekolah”…Hanya saja yang menjadi pertanyaannya sekarang apakah sekolah bisa tetap bertahan bila tidak ada unsur uang dan materi? Apakah ada sekolah yang bisa maju dan sukses bila tanpa didudukung oleh sarana dan prasarana yang akhirnya juga bermuara pada uang dan materi? Apa ada pelaku pendidikan yang tidak memerluakan uang? Jika ada maka luar biasalah pendidik tersebut yang tetap bisa survive tanpa perlu repot-repot memikirkan nialai sebuah materi.

 



[1] Tugas penulisan artikel mingguan, pertemuan ke-9 Senin 24 Oktober 2011

[2] Mahasiswa PPs STAIN Pontianak Angkatan 2011 Semester II

0 Comments

Follow Me On Instagram