Sekolah Kapitalisme yang Licik[1]
Sekolah Kapitalisme yang Licik[1]
Oleh: Sri Wahyuni[2]
………apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang
cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh? Segeralah kaum sekolah itu pasti
akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka. (Y.B.
Mangunwijaya)
Pendapat diatas menunjukkan betapa intelektual organik walaupun
memiliki output yang cerdas belum tentu berdayaguna untuk masyarakat. Kognitif
menjadi muara yang disinyalir menjadi awal penyebab masalah ini.
Sekolah-sekolah masa kini berlomba-lomba melahirkan lulusan yang mempunyai
pengetahuan yang tinggi untuk dapat bersaing dipasar global. Domain kognitif
menjadi salah satu alat untuk bisa menentukan seberapa besar peluang mereka untuk
mendapatkan pekerjaan yang benefit. Domain kognitif lagi-lgi menjadi wadah
empuk untuk mendapatkan seluruh keinginan, lulusan dijamin segera mendapat
pekerjaan bila lulus seleksi melalui domain ini. Sehingga lahirlah lulusan yang
berorientasi pada materi dalam hidupnya.
Lebih dari itu pendidikan mempunyai misi luar biasa dalam memberikan bekal bagi
peserta didiknya untuk memanusiakan manusia artinya peserta didik kelak dapat
hidup bersama (Learning to live together), dimana tidak ada lagi hal-hal
yang membatasi semua itu termasuk berapa besar uang yang bisa mereka raup
setiap hari, berapa mewah kendaraan yang meraka gunakan dan hal-hal lain yang
berbau materi.
Bila misi tersebut tidak tercapai hanya karena sekolah yang
sudah menanamkan benih-benih kapitalis, maka kecil kemungkinan misi mulia
tersebut bisa terwujud. Menurut penulis kapitalis lebih ramah pada lembaga yang
dinamai sekolah, karena sekolah tempat bertumpunya segala macam harapan dan
tujuan. Meskipun tidak mungkin hal itu semua bisa terelakkan. Pendidikan tidak
akan bisa lepas dari unsur-unsur capital, banyak hal yang menjadi pemicu
diantaranya: seragam sekolah. Seragam sekolah penting untuk selalu digunakan
oleh siswa, karena dengan seragam sekolah bisa diketahui dimana peserta didik
bersekolah. Namun bagaimana jika seragam juga menjadi alat untuk menggali
lubang uang? Banyak sekolah yang mewajibkan peserta didiknya untuk memiliki
seragam bahkan tidak kepalang dalam satu sekolah terkadang mewajibkan siswanya
memiliki lima pasang seragam sekolah. Hal ini tentu memicu prsangka negative
karena dibalik semua itu pasti ada unsur uang didalamnya yang lebih
menjanjikan.
Selain seragam sekolah buku paket menjadi incaran
selanjutnya oleh para tokoh kapitalis dibalik layar. Cara kerja mereka juga
halus tebukti ada sebagian penerbit buku yang menjanjikan bonus kepada pihak
sekolah yang dapat menjual buku dangan jumlah yang besar. Uang sekolah juga
demikian ada pungutan-pungutan yang mestinya tidak perlu ada meskipun dalihnya
untuk pembangunann gedung atau dana operasional laboraturium ini dan itu. Ijash
juga bisa menjadi ladang uang buat tokoh ini karena banyak orang yang munyukai
produk instan (siap pakai/siap saji). Ijazah menjadi salah satu dari produk
instan tersebut Karen orang bisa saja memiliki ijazah tanpa harus bersekolah
dan menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk mengajar satu lembar kertas.
Miris sekali semua tertepiskan hanya karena ‘uang”.
Bayangkan bila sekolah saja sudah menanamkan benih-benih ini
pada peserta didiknya maka suatu hal yang tidak mungkin bila suatu saat nanti
negara kita akan dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki akal picik dan licik
hasil tempaan kapitalis berkedok pendidikan. Pola piker yang hanya mementingkan
uang dan materi dalam hidup. Sehingga tidaklah keliru bila Margaret Mead
mengatakan “Nenek ingin aku memperoleh pendidikan karenanya ia melarangku
sekolah”…Hanya saja yang menjadi pertanyaannya sekarang apakah sekolah bisa
tetap bertahan bila tidak ada unsur uang dan materi? Apakah ada sekolah yang
bisa maju dan sukses bila tanpa didudukung oleh sarana dan prasarana yang
akhirnya juga bermuara pada uang dan materi? Apa ada pelaku pendidikan yang
tidak memerluakan uang? Jika ada maka luar biasalah pendidik tersebut yang
tetap bisa survive tanpa perlu repot-repot memikirkan nialai sebuah materi.


0 Comments